Minggu, 31 Januari 2010

The Myth (The Final Cut)

Tanpa disangka-sangka Richard datang membawa istrinya di pesta yang diadakan Daniel Spencer, walaupun sebenarnya itu pesta khusus mahasiswa, Daniel sudah mencaritahu siapa dosen yang paling populer, akhirnya ia ikut mengundang Richard sebagai tamu kehormatan.

Jenna sebenarnya sangat malas dan tidak nyaman datang ke pesta para anak ingusan seperti ini, sangat berisik, berbau alkohol, musik yang mengerikan dan juga seks yang tidak teratur. Jenna merasa jijik saat ia memandang pemandangan di bawah meja. Ia yakin itu adalah Stoneface, permainan sex yang sedang populer di antara remaja dan mahasiswa, sekelompok pria duduk mengelilingi meja tanpa menunjukan emosi apapun dengan celana melorot, seorang gadis di bawah kursi menyesap salah satu penis mereka, kemudian semua harus menebak siapa pria yang beruntung itu.



Merasa mual Jenna keluar ruangan dan ke teras mencari udara segar, klau bukan Richard yang memaksa, ia tidak akan datang, Richard mengatakan, gosip megenai mereka akan bercerai di kampus sangat gencar, Richard hanya ingin merasa aman dari gadis-gadis liar di pesta ini, karena mereka tidak akan berani selama Jenna di sampingnya.

”Permisi apakah anda Jenna Nixon ? Aku pernah melihat Anda bersama Prof. Richard, anda cantik sekali malam ini”

Dalam hati Jenna merasa senang keputusannya memakai gaun pendek berwarna hitam sangat tepat dipakai malam ini, dan siapakah gadis di depannya yang hanya mengenakan jeans dan t-shirt.

”Saya Jessica, saya juga mahasiswa Prof. Richard seperti semua yang ada di sini, Anda suka pestanya”

”Tidak terlalu, tapi dari pada di rumah menonton berita-berita yang mengerikan, lebih baik saya mencari suasana baru”

”Anda benar, Salem Falls akhir-akhir ini sangat mencekam, anda percaya dengan mitos yang ada? Penyihir , ritual dan sejenisnya?”tanya Jessica.

”Itu cuma berita sampah yang dihembuskan masyarakat, saya cukup lama tinggal di kota ini, dan baru mendengar cerita aneh seperti itu”jawab Jenna.

”Anda benar!Aku punya teman sekamar di apartemen yang sedang main detektif-detektifan, tapi menurutku di sungguh-sungguh!”

”Maksudmu?”Jenna tampak sangat tertarik.

”Ia yakin kematian Ellie dan ditemukannya kerangka tersebut ada hubungannya, bukankah itu aneh?ia sampai menyelidiki semuanya, ke rumah Ellie, dan Lisa, ibu gadis yang kerangkanya ditemukan itu”

Dalam hati Jenna bertanya-tanya, sejauh mana teman gadis ini tahu. ”Lalu sudah sejauh mana penyelidikan temanmu?” tanya Jenna seolah-olah tidak peduli.

”Entahlah, aku tidak terlalu mau tahu!, tapi sepertinya ia sudah melakukan banyak hal!” kata Jessica.

Dengan alasan sedang ada urusan, Jenna mengatakan pada Richard ingin pulang lebih dahulu, ia akan naik taksi saja. Kemudian di dalam taksi, ia menekan nomor pada ponselnya dan menghubungi seseorang. ”Ya, aku punya informasi penting untuk anda”

Jack segera meletakan telepon yang baru saja diterimanya, Jenna Nixon baru saja mengubunginya, ia dan Nick segera melaju ke arah rumah Jenna, dalam hati Jack bertanya-tanya informasi seperti apa yang akan mereka dapatkan dari wanita itu. Kalau ini cuma gosip murahan antar sesama wanita pesolek, ia akan meninggalkannya detik itu juga.



Richard yakin ada yang tidak beres saat ia sampai di rumah, ada mobil pilisi diparkir di depan rumahnya, tapi ia lebih terkejut lagi begitu masuk.

”Maafkan saya Prof. Nixon, anda harus ikut dengan kami!”kata Jack.

”Jack, ada apa ini? Jelaskan padaku!”

”Istri anda sudah mengatakan semuanya.”

Richard menoleh ke arah istrinya.

”Aku sudah mengatakan pada mereka tentang foto-foto itu,”

Richard baru sadar, laptopnya da di meja tamu. ”Dasar wanita sialan!”. Iahendak maju dan mencekik istrinya, tapi polisi di depannya langsung menghadangnya dan membawanya ke mobil.

”Jack kau sudah mengenalku, aku tidak melakukan apa-apa!” ujar Richard begitu sampai sampai di kantor polisi dan duduk di salah satu ruangan.

”Santai saja Richard, kita tidak usah terburu-buru, sekarang ceritakan semua dari awal, bagaimana hubunganmu dengan Ellie Smith?”



Laurie sudah ketinggalan pesta saat ia baru datang, separuh tamu sudah mabuk, bahkan ada yang terkapar di lantai, musik slow masih mengalun di sudut ruangan, saat menuju meja makan dan hendak mengambil wine, tapi di sana sudah tersisa papun, semuanya habis. Ia mambalikan badan dan merasa kecewa, namun mendadak raut wajahnya berubah.

”Kenapa lama sekali?” tanya Daniel sambil mengulurkan segelas wine. ”Aku sudah menyiapkannya untukmu”

Laurie tidak bisa menyembunyikan perasaanya saat itu, bagaimana mungkin ia menolak wine itu, kemudian meraih gelas yang di sosorkan Daniel.

Mereka berdiri di teras rumah Daniel, bersandar pada pagar sambil menatap langit malam, sudah tengah malam, tapi masih ada saja orang yang datang.

”Aku beruntung karena masih ada yang tersisa! Bagaimana dengan mereka?” tanya Laurie.

”Masih ada beberapa kaleng soft drink di lemari es serta keripik kentang sekantung besar,”kata Daniel sambil tertawa kecil, yang membuat lesung pipinya terlihat jelas.

Pria ini benar-benar manis.

”Hei!kurasa aku belum tahu namamu,kan?”tanya Daniel.

”Ya, aku Laurie. Kau mahasiswa jurusan apa?”

”Aku mengambil Matematics Sains”jawab Daniel.

”Otakmu pasti benar-benar luar biasa!”ujar Laurie.

Mereka berdua tersenyum, kemudian mereka terus berbincang mengenai kuliah, kampus, hingga yang paling hangat adalah mitos yang ada.

”Kau percaya dengan semua itu?”tanya Daniel.

Laurie menggeleng ”Aama sekali tidak, aku yakin ada hal lain di balik semua ini”

Mereka terus mengobrol hingga pesta usai menjelang pagi. Daniel mengantar Laurie dan Jessica yang masih mabuk pulang ke apartemennya.

”Thanx for the party!”kata Laurie, saat Daniel meniggalkan mereka. Daniel tersenyum dan melambaikan tangannya.


Bab 6

22 November 2008

Berita ditangkapnya Richard Nixon langsung menjadi perbincangan panas di kalangan kampus, bagaikan virus yang cepat menyebar, berita tersebut sekarang sudah sampai ke telinga warga Salem Falls, walaupun belum disiarkan televisi sekalipun. Sekarang puluhan wartawan yang kelaparan sedang ada di luar kantor polisi menantikan sarapan pagi mereka.

”Kita tidak bisa seperti ini terus!” kata Jack

”Mereka akan tetap di luar sana mengerubungi tempat ini,sir! Anda harus membuat pernyataan”

Begitu Jack keluar senua kamera terarah kepadanya, semua microfon teruslur ke wajahnya, ia berdeham sebentar kemudian bicara.

”Kepolisian sudah menahan Prof. Richard Nixon tadi malam, kami sudah melakukan pemeriksaan dan ia sudah mengakui suatu hal”

”Apakah ia ada hubungannya dengan pembunuhan Ellie Smith?” tanya seorang wartawan. ”Apakah ia juga ada hubungannya dengan kerangka tersebut?”. ”Apakah prof. Nixon seorang phedofilia?.

”Aku belum selesai bicara”ujar Jack. Nick yang ada di sampingnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pada wartawan yang memberondong mereka dengan pertanyaan.

”Richard Nixon sudah mengakui kalau ia sudah melakukan pembunuhan terhadap Andrew Smith, kami sudah mendapat motifnya. Mengenai semua yang kalian tanyakan tadi, kami sedang menyelidikinya. Sekian” kata Jack kemudian ia masuk kembali ke kantornya. Puluhan wartawan di luar masih berteriak dengan pertanyaan yang sama, Nick yang disampingnya pun menjawab dengan seadanya, bahwa semuanya masih dalam penyelidikan.

Jack bersandar pada kursinya, ia membayangkan Richard yang mengaku beberapa jam yang lalu, ia mengaku telah membunuh Andrew Smith, tapi ia juga bersikeras tidak mengetahui apapun tentang kematian Ellie Smith, apalagi mengenai kerangka itu, tampakanya ini akan jadi semakin sulit, kata Jack dalam hati. Tapi juga semakin menarik.

”Mereka benar-benar luar biasa!”kata Nick begitu masuk ke ruangannya sambil membawa dua cangkir kopi panas.

”Kau menyukainya kan?”

”What?” tanya Nick tidak mengerti.

”Publikasi itu, bukankah kau sudah masuk TV,”

Nick tampak malu-malu mendengarnya.

”Mereka masih di sana?”tanya Jack.

”Sebagian sudah pergi, tapi sebagian lagi tetap di tempatnya.”

Jack mengangguk mendengarnya, setidaknya ia tidak akan keluar hingga menjelang sore nanti. Ia tidak mau menjadi sasaran empuk.



Di tempat berbeda Joanna Smith hanya bisa menangis menyaksikan berita di TV, tapi ia juga lega, setidaknya satu misteri telah terungkap, tapi ia masih bertanya-tanya untuk apa Richard melakukannya, apa mungkin ada hubungan dengan apa yang di bacanya di buku harian Ellie? Kemudian ia membuat keputusan akan membuat copy buku harian tersebut dan menyerahkan aslinya pada pilisi siang nanti. Ia masih yakin kalau Richard juga terlibat atas pembunuhan Ellie, ia akan meminta penjelasan pada polisi nanti.

”Tidak kusangka orang itu pelakunya, aku tahu dia, dosen tampan itu, saat aku ke swalayan, gadis-gadis muda menyebut-nyebut nama itu!” kata Lillian di rumahnya.

Robert duduk di depan perapian, menonton TV sambil menum teh herbal yang dibuatkan Lillian untuknya. ”Apa benar begitu, bagaimana gadis itu? Apa benar pelakunya dia juga?”

”Kita belum tahu, sayang! Semua masih diselidiki pilisi.” jawab Lillian.

Robert hanya mencibir.” tidak mungkin berhasil, ini pasti ada hubungannya dengan ritual tahuan itu, mereka kembali mulai musim ini Lillian, pa kau tidak tahu itu!”

Lillian mendesah panjang sambil menggelengkan kepalanya ”sudahlah, minum saja tehmu!”

Laurie menyaksikan berita pagi itu dari atas tempat tidurnya sambil menikmati kopi panas dan waffle yang dilumuri sirup anggur, Jessica yang menginap di kamarnya dan tidur di sampingnya tampak masih terlelap, kemungkinan siang nati ia baru akan bangun. Sambil menggigit wafflenya, Laurie teringat buku harian Ellie, tapi apa mungkin Prof. Richard yang membunuh Ellie? Laurie bertanya-tanya. Ia bertekad akan terus menyelidikinya.

Hari ini Laurie tidak ada kuliah, tapi ia yakin dikampus pasti penuh dengan wartawan, ia akan bekerja beberapa jam, kemudian akan ke rumah Joanna sore nanti, kalau boleh ia akan meminta copy buku harian itu, siapa tahu ia melewatkan sesuatu. Ia merasa yakin semua kematian ini saling berkaitan, tapi ia kurang yakin kalau Richard yang membunuh Andrea dan Ellie, apa alasannya? Kemungkinan besar Richard membunuh ayah Ellie adalah karena ia gelap mata akibat cacian Andrew, Joanna telah menceritakannya tentang pertengkaran itu, suaminya beberapa kali memarahi Richard habis-habisan, agar pria itu menjauhi puterinya, tapi Richard tidak melakukannya, justru endekatan semakin gencar. Hari itu tidak biasanya Andrew belum pulang hingga malam, padahal ia tidak ada jadwal kuliah malam, Joanna berusaha menghubungi ponsel suaminya berkali-kali, tapi tidak ada jawaban, menjelang tengah malam, datanglah polisi dan pihak universitas yang memberitahukan semuanya.

Richard Nixon meringkuk dalam selnya, kepalanya terbenam antara kedua siku dan lututnya, ia kembali teringat usahanya untuk mencapai karirnya seperti sekarang, usaha kerasnya untuk bekerja dan mengajar di universitas yang menyenangkan di kota kecil, dikelilingi dengan mahasiswi, serta menjadi dosen teladan, mendadak semua itu lenyap dalam waktu semalam. Tapi setidaknya ia sudah agak tenang, rahsianya selama bertahun-tahun yang ia pendam telah terkuak, ia tidak perlu lagi menanggung beban berat itu. Tadi pagi Joanna menjenguknya, ia tidak mengatakan apa-apa, hanya melemparkan tatapan dingin dari luar sel, barangkalai ia ingin tahu seperti apa sosok manusia yang membunuh suaminya jika sudah dipenjara, tapi ia tidak membunuh Ellie, ia tidak mempunyai alasan membunuh gadis itu, ia terlalu mencintainya.



Richard mendengar pintu selnya dibuka, ia menengadah dan petugas langsung membawanya ke ruang interogasi, di sana sudah menunggu Jack, di mejanya ada bertumpuk-tumpuk kertas serta sebuah buku, yang nampaknya seperti buku harian, Richard merara ototnya menegang, ia kembali teringat ucapan Ellie waktu itu.

”Mungkin anda sudah bosan mendengar pertanyaan ini”kata Jack., ”tapi saya tanya sekali lagi, apa kau juga membunuh Ellie Smith?”

”Mungkin anda juga sudah bosan mendengar jawabanku, tapi aku tidak membunuh Ellie!” jawab Richard tegas.

”Anda punya mobil sedan mewah, Professor?”

”Ada banyak orang yang mempunyai mobil seperti milikku di kota yang kecil ini!” jawab Richard pelan.

”Aku tidak tanya orang lain, apa kau punya?”

”Aku punya, tapi itu bukan milikku, itu milik istriku!”

”Di mana anda pada tanggal 17 November tengah malam lewat?” tanya Jack.

Memori ingatan Richard bergerak mundur, saat itu ia tengah ada kuliah malam, lalu pulang pukul 9.00, ia tidak langsung pulang, ia pergi ke bar jauh di pinggiran kota, sebenarnya ia mau datang ke pesta Sarah Lee, tapi ia memutuskan tidak ikut, ia mengemudikan mobilnya ke sebuah bar di pinggir kota, ia minum terlalu banyak, seorang wanita mendekatinya, kemudian yang ia ingat ia terbangun pukul 2.30, ia berusaha mengingat-ingat kejadian waktu itu, wanita itu, ia terlalu bnayak minum, karena saat bangun ia dan wanita itu sudah terbaring telanjang di kamar salah satu bar, ia pulang ke rumah menjelang pukul 3.00.



Jack berusaha menyerap apa yang dikatakan Richard, kemudian ia segera memanggil Nick dan berbisik kepada anak buahnya itu. Ia menyuruhnya untuk pergi ke bar yang dimaksud Richard dan segera menghubunginya begitu mendapat informasi dari sana.

Jack mengembalikan Richard ke selnya, kemudian masuk ke ruangannya, ia kembali menghubungkan semua keterangan yang ia peroleh, mobil sedan itu kuncinya, Lacey Hilmer mengatakan kalau seorang wanita mengenakan mantel mahal menaiki mobil tersebut, itu berarti kemungkinan hanya beberapa orang yang akan menjadi tersangka.



Karen dan Sarah tengah duduk-duduk di teras yang luas di area kampus sambil membaca majalah People. Di sekeliling mereka, semua orang membicarakan tertangkapnya Richard Nixon, serta pengakuannya yang mengejutkan, Sarah melihat beberapa mahasiswi semester awal yang mengelap air mata mereka, ia mengira mereka baru saja selesai menangis akibat idolanya ditangkap akibat membunuh, sambil mengunyah permen karet, Karen menatap muak ke arah gadis-gadis yang mengenakan T-shirt bertuliskan ’we need Nixon right now’.

”Apa semua gadis di kampus ini sudah gila, untuk apa mereka bersimpati pada pembunuh, aku memang pengagumnya, tapi setelah yang terjadi, rasa kagumku berubah menjadi benci” kata Sarah.

Karen mengangguk setuju. ”Para looser itu, memang tidak ada kerjaan, mereka bisa ikut ke penjara kalau mau kan, memohon pada polisi untuk menginap satu atau dua malam dalam satu sel dengan Richard!”

Kemudian mereka tertawa. Sarah mendengar ponselnya berbunyi, ada pesan dari Denny. Where u at? I need u now!

Ia melirik ke arah Karen yang tengah asyik membaca, sambil memikirkan alasan yang tepat untuk meninggalkan temannya itu.

”Karen, aku ada kuliah tambahan, waktu itu aku bolos, jadi harus ikut kuliah ini, kau mau menungguku atau ikut?”

”Ikut denganmu kuliah? Lebih baik aku ke penjara bersama Richard, pergilah! Aku akan masih di sini beberapa menit lagi, kemudian pulang!”

Sarah tersenyum, kemudian berlari-lari kecil menuju taman belakang kampus. Di sebuah pohon yang besar Denny Arden sudah menunggunya, ia mengenakan jacket tebal dengan tudung yang menutupi sebagian kepalanya. Mereka saling berpelukan sambil saling melumat bibir.

”Better?”tanya Sarah.

Denny mengangguk. ”Aku melakukan hal yang tepat.”

”Jadi, bukankah selama ini usahamu mengejar Ellie sia-sia, karena ada aku yang siap kapan saja!” ujar Sarah, kemudian berciuman lagi.



Jack sudah mendapat informasi dari Nick mengenai wanita itu, dan semua cocok, Richard punya alibi malam itu, bukan dia pembunuh Ellie. Kemudian ia segera mempelajari kesaksian dari para pemilik mobil sedan itu. Setelah menyaring beberapa kemungkinan serta kesaksian, akhirnya diperoleh beberapa tersangka. Mobil pasangan Clausen, Jenna Nixon, Ted William dan Sarah Lee, walaupun gadis itu mengadakan pesta, tapi tidak ada saksi yang melihat mobil Sarah di depan rumahnya, padahal pada saat pesta dimulai, mobil tersebut masih ada, mungkin karena semua terlalu mabuk malam itu. Jadi, nanti malam ia akan memulai semuanya, ia mendapat firasat bahwa semua kan berakhir malam ini. Jenna Nixon mendapat giliran pertama, walaupun Jack sudah meminta keterangannya saat penangkapan Richard waktu itu, tapi Jack merasa masi ada yang janggal.



Menjelang malam Laurie pulang dari tempat kerjanya, walaupun hari baru gelap, tapi ia merasa aneh, karena jalanan saat itu agak sepi, udara dingin membuat semua orang ingin meringkuk dan bersantai di rumah mereka. Hanya ada beberapa mobil yang diparkir di pinggir jalan yang sepi.

Sambil mendengarkan I-podnya, Laurie berjalan pelan ke rumah Joanna, ia berniat meminta copy buku harian Ellie. Sesekali ia bernyanyi pelan sambil mengusap-usapkan kedua telapak tangannya.

Laurie berbelok ke jalan yang ditumbuhi pohon-pohon besar dikedua sisinya, mirip seperti di hutan, bahkan lampu penerangan jalan tertutup oleh rindangnya pohon yang ada di sekitarnya.



Jack dan Nick berniat ke rumah Jenna Nixon malam itu, Nick yang mengendarai mobilnya, sedabgkan Jack mengamati keadaan sekeliling, ia begitu heran mengapa malam itu tidak seperti biasanya, sepi dan mencekam. Kemudian Jack terbelalak, ia segera memerintahkan Nick untuk mematikan lampu mobil. Didepan mereka ada sebuah mobil sedan hitam sedang bergerak pelan, sama dengan mereka mobil tersebut mematikan lampu depannya.

”Pengemudi mobil tersebut jelas punya maksud tertentu”, kata Jack pelan pada Nick

Samar-samar Jack melihat seorang gadis berjalan santai di depan mobil tersebut, ia tidak menyadari kalau mobil itu tengah membuntutinya, begitu tiba di jalan yang agak gelap, Jack dan Nick melihat dengan mata mereka sendiri, dengan kecepatan penuh mobil itu melaju ke arah gadis itu.



Laurie semakin merinding begitu melewati jalan yang agak gelap, ia kemudian teringat mengenai cerita Jessica mengenai mitos penyihir yang saat ini sedang diperbincangkan, sambil mengenyahkan pikiran aneh tersebut, Laurie mengganti lagunya dengan lagu Kelly Clarkson agar perasaan takutnya hilang, tapi kemudian ia melihat sorot lampu mobil yang terarah padanya dari belakang, Laurie menoleh ia terkejut bukan main saat sebuah mobil melaju ke arahnya, Laurie tidak sempat menghindar, tapi ia berhasil memutar tubuhnya akhirnya mobil itu hanya menyerempet tubuhnya sebelum menabrak sebuah pohon besar dan berhenti di sana.



Jack dan Nick segera keluar dari mobil begitu melihat gadis itu terserempet dan terjatuh, dan tubuhnya membentur aspal. Nick segera membantu gadis itu berdiri sedangkan Jack berlari menuju mobil yang menabrak itu, ia segera membuka pintu kemudi dan membelalakan matanya. Ini akan jadi berita terheboh tahun ini, pikirnya. Di dalam mobil nampak Jenna Nixon tengah meringis keaskitan saat kepalanya membentur kaca depan mobil dan tangan kanannya tetekuk dengan posisi yang aneh.


Bab 7

Dua jam kemudian Laurie sudah ada di rumah sakit Salem Falls dikelilingi oleh Jessica, Joanna, dan Lisa. Raut wajah mereka nampak menunjukan kekhwatiran. Ini adalah kejadian yang akan membuat siapa saja terguncang.

”Apa kau akan kapok main detektif-detektifan?”tanya Jessica menggoda.

”Aku harap ini sudah berakhir, tapi jika ada kasus baru aku akan mulai lagi!” jawab Laurie, sambil tersenyum menahan sakiit, ia mendapat beberapa jahitan akibat tubuhnya terbentur dan bergesekan dengan aspal.

”Kau membuat kami cemas, Laurie!” ujar Lisa. Joanna yang ada di sampingnya hanya bisa mengangguk sambil mengusap air matanya.

”Kami sangat berterima kasih atas apa yang kau lakukan,ujar Lisa.

Laurie tersenyum lemah.

Tadi polisi telah menerangkan bahwa Jenna Nixon telah mengakui kejahatan itu menjelang operasinya. Ia mengatakan, ia membunuh Andrea dan Ellie karena kedua gadis itu telah menggoda suaminya, Andrea adalah teman satu kampus dengan Jenna dan Richard, saat mereka masih kuliah Andrea dan Richard begitu dekat, padahal Richard tengah menjalin hubungan dengannya, sedangkan Ellie, tidak perlu dijelaskan lagi, gadis itu membuat Richard mengejar-ngejarnya dan mengacuhkan istrinya. Intinya semua ini akibat cemburu. Ia menggunakan mitos yang ada agar semua tampak seperti bukan ulah manusia, mulai dari mengambil darah mereka dengan jarum suntik, tidak sulit mendapatkan jarum itu karena ia pernah menjadi seorang dokter. Sedangkan niatnya untuk membunuh Laurie, karena ia mengira gadis itu terlalu banyak tahu, ia menyelidiki kesana kemari seperti polisi.

Lisa dan Joanna saling menguatkan, mereka bersyukur semua telah selesai, semua misteri akhirnya terungkap, semua berkat Laurie.

Jack segera menghubungi istrinya agar untuk bersiap-siap, karena paling tidak dua bulan lagi mereka akan pindah ke White Mansion, Jack mendengar istrinya menjerit tertahan akibat kegirangan.

Di tempat berbeda, agak jauh dari rumah sakit. Di sebuah ladang jagung, Lillian Clausen sedang berdiri memandang ke kejauhan, mulutnya berkomat-kamit mengucapkan kalimat-kalimat aneh. Kemudian ia mengangkat cawan perak berisi darah binatang dan menyebarkannya ke seluruh ladangnya, ia memutari ladang tersebut melalui arah penjuru mata angin, dan menyiramkan darah binatang ke setiap titik, mulutnya masih sibuk berkomat-kamit, ia merapatkan mantelnya agar tidak kedinginan kemudian tangannya menengadah ke langit masih sambil mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak dimengerti siapapun. Ia kembali menatap ke ladang jagungnya. Ia harus melakukan ini agar bisa terus hidup, leluhurnya mengharuskannya melakukan ini, sebagai generasi terakhir ia bangga melakukan ini, agar mereka terus makmur, ini harus diteruskan.

Sabtu, 30 Januari 2010

The Myth part 6

Hari itu Lacey Hilmer masih saja kedatangan dua orang polisi, ia sudah bosan menjelaskan kepada mereka semua bahwa ia tidak melihat siapaun hari itu selain beberapa temannya yang juga pemulung, sama seperti dirinya. Tapi polisi-polisi itu masih tetap saja datang dan menanyakan hal yang sama.

”Apa kalian mengira aku menyembunyikan sesuatu?”tanya Lacey kesal. ”Aku bukan orang bodoh, hingga mau berurusan dengan polisi. Masalahku sendiri sudah rumit, aku jadi terlambat ke tempat pembuangan sampah pada pagi hari, sore harinya saat aku baru saja pulang dan mau istirahat, kalian datang lagi dan menanyakan hal yang sama.”

”Kami hanya mau meminta kembali keterangan anda, Ma’am. Mungkin ada yang anda lewatkan, atau barangkali anda sudah ingat sesuatu dan mau bercerita kepada kami”. Kata polisi itu dengan sabar.

”Sudah kukakatakan ribuan kali pada kalian, saat aku baru saja datang. Aku tdak bertemu siapapun kecuali mayat itu. Ya, Tuhan semoga ia tenang di alam sana. Sekarang kalian pergilah, aku mau memasak makan malam, tapi aku tidak akan mengundang kalian masuk karena makan malamku nanti tidak akan cukup.”

”Baiklah, kami akan pergi.Tapi jika anda ingat atau tahu sesuatu, harap tidak mengatakannya pada siapapun kecuali pada kepolisian. Terima kasih, kalau begitu kami permisi dan mungkin ini bisa membantu anda untuk bisa lebih menikmati makan malam anda” kata polisi yang satunya sambil menyerahkan bungkusan plastik pada Lacey.

Lacey bisa melihat isinya dari luar, beberapa potong roti dan sekaleng daging ham dan sekaleng kacang polong dan buncis. Lumayan untuk sarapan besok pagi, pikir Lacey., ia menyadari sesuatu dan otaknya segera berputar cepat. Tapi.... mungin besok aku bisa mendapat lebih. ”Tunggu dulu!”panggil Lacey kepada polisi-polisi yang sudah beberapa langkah meninggalkannya. ”Sepertinya aku memang melihat seseorang. Seorang wanita, kurasa!entahlah, tidak terlalu jelas karena ia memakai mantel tebal hingga menutup kepalanya, aku tidak tehu apa yang ia lakukan di tempat pembuangan sampah, tapi untuk apa orang kaya ke tempat seperti itu”

Kedua polisi itu saling berpandangan. ”Orang kaya?” tanya polisi yang lebih kurus.

”Tentu saja, mantelnya pasti seharga ribuan dollar, aku pasti sudah membeli rumah dari pada membeli mantel mahal seperti itu, memang tipe mantel yang dibeli banyak orang, tapi aku tahu itu pasti pakaian yang mahal”.

Sementara polisi yang satunya sambil mencatat apa yang dikatakan Lacey, Lacey sendiri lupa bercerita bahwa ia tidak melihat seorang wanita pagi itu, tapi hanya sebuah mobil mewah yang melewatinya. Ia tidak sadar kalau terlalu jauh berbohong demi untuk mengisi perutnya.

”Anda ingat seperti apa mantel tersebut?”

Lacey berusaha mengingat-ingat mantel yang dibelinya saat ia masih hidup berkecukupan dulu.

”Mrs. Hilmer, apa yang baru saja anda katakan, amat berarti bagi pihak kepolisian, kami berharap anda memberitahu kami yang sebenarnya anda lihat hari itu”.

”Bukankah baru kukatakan, aku tidak begitu jelas memperhatikan, ia memakai mantel tebal dan kukira sangat mahal, terbuat dari kulit, kurasa!dan berwarna hitam yang indah. Tapi untuk apa ia berjalan-jalan di sekitar tempat pembuangan sampah kota, bukankah aneh memakai mantel mahal berjalan-jalan di tempat seperti itu, anda akan berpikir sama denganku,kan?”

”Tentu saja untuk membuang sampah Ma’am. Dan mantel itu, semua orang bukankah memilikinya? Bahkan semua penghuni White Mansion punya mantel seperti yang anda sebutkan itu”.

Kedua polisi itu saling berpandangan lagi, sementara yang satunya mencatat keterangan Lacey, yang satunya berusaha kembali mengorek informasi dari wanita tua itu.

”Mrs. Hilmer, apa anda yakin orang itu sedang berjalan-jalan? Apa anda tidak melihat ia membawa sesuatu atau mengendarai sesuatu, misalnya” tanya polisi yang bertubuh kekar sambil menyipitkan matanya.

Mengendarai sesuatu,bayangan mengenai mobil sedan mewah kini melintas dalam pikiran Lacey, bagaimanapun juga ia pernah hidup berkecukupan, ia tahu yang mana sedan mewah atau mirip sedan mewah, memorinya kini sedang bekerja mundur, berusaha mengingat kembali apa yang ia lihat hari itu.

”Kurasa aku memang melihat sebuah mobil.”aku Lacey pelan.

”Mobil?”tanya polisi itu.”Anda tahu itu jenis mobil apa?”

”Mobil sedan, warnanya hitam. Kurasa itu hanya mobil sepasang kekasih yang mencari tempat sepi untuk..,anda tahu maksudku kan,?Di belakang tempat pembuangan sampah ada bukit yang indah, jadi kurasa mereka baru saja pergi ke sana”.

”Mereka? Apa anda melihat ada lebih dari satu orang?”

”Apa aku baru saja bilang lebih dari saru orang? Entahlah aku juga tidak begitu yakin, kaca mobilnya tertutup, dan aku juga tidak begitu memperhatikan”

”Dengar, Ma’am! Kami minta anda tidak memberi keterangan palsu, karena kami bisa membawa anda sekarang juga”

Mendengar gertakan itu, hati Lacey agak sedikit menciut, ia memutuskan untuk segera mengusir kedua polisi itu.”Kalian yang dengarkan aku, aku sudah memberitahukan semua yang kulihat dan apa yang kusaksikan, sekarang silahkan pergi karena aku mau istitrahat, dan terima kasih untuk makan malamnya”kata Lacey sambil menutup pintu rumahnya di hadapan kedua polisi itu.

Saat tiba di dalam mobil polisi yang lebih kurus bertanya pada polisi yang satunya,”apa menurutmu dia berbohong?”

”Kurasa,ada beberapa yang dikatakannya sungguh-sungguh. Aku bisa melihat dari ekspresi wajahnya tentang mobil sedan itu”

”Mobil sedan?Salem Falls kota kecil, hanya puluhan orang yang punya mobil mewah dikota ini.”

”Lebih baik kita segera kembali ke markas, Jack pasti akan menyukai ini”.

Sementara itu di markas kepolisian Salem Falls, ”Lihat apa yang kubawa, mereka baru saja dari rumah pemulung itu. Menurutnya ada seseorang memakai mantel mahal di pagi buta berkeliaran di tempat pembuangan sampah pagi itu.” kata Nick.

”Apakah itu aneh? Jalan terdekat menuju bukit adalah melewati tempat pembuangan sampah itu, bisa saja orang itu sedang jogging di pagi buta.

”Mungkin benar, tapi apa mungkin jogging dengan menggunakan mantel tebal dan mahal menurut pemulung itu.”

”Nick, kebiasaan itu banyak yang aneh, aku pernah melihat yang lebih ekstrim. Memakai kaos kaki dengan sandal misalnya.”

”Benarkah, aku pernah lihat di tv, bukankah itu salah satu kejahatan fashion?”tanya Nick berusaha menahan tawa.

”Jangan bilang kau suka nonton Fashion Police!”kata Jack meledek.

”Aku pernah melihatnya, tapi aku bukan penggemar acara itu!”jawab Nick mengakui.

”Baiklah kita kesampingkan dulu mantel itu, bagai mana dengan mobil sedan hitam mewah yang dilihat pemulung itu?”tanya Jack

”Menurut pemulung tersebut, itu bukanlah hal yang aneh. Banyak pasangan-pasangan yang mencari tempat sepi di balik bukit untuk menggoyang mobil,menurutnya.”

”Bisa dihitung orang-orang yang mempunyai sedan mewah berwarna hitam di kota sekecil ini”.

”Aku mengerti maksudmu, aku akan membawa hasilnya besok siang”.Jawab Nick sambil mencatat pada notesnya.

”Aku juga ingin kau mencari tahu tentang Ellie Smith, tanyai teman-teman terdekatnya, ibunya bahkan dosennya.”

Nick mengangguk, kemudian meninggalkan Jack kembali sendirian di kantornya.



Jenna Nixon sedang makan malam bersama suaminya di rumah mereka yang terletak di pinggiran kota Salem Falls, awalnya mereka ingin makan di halam belakang rumah, sambil menikmati suara alam, tapi udara yang semakin dingin membuat mereka kembali lagi duduk di ruang keluarga dan makan malam di sana. Walaupun mereka sedang merencanakan perceraian mereka, namun itu tidak membuat mereka tidak menikmati apa yang mereka sedang makan. Jenna dibantu oleh pelayannya memasak masakan kesukaan Richard, kalkun panggang, spagety dan salad. Jenna bisa melihat suaminya amat menikmatinya, dalam otaknya Jenna bertanya-tanya, bagaimana mungkin Richard masih bisa makan begitu lahab di hadapan istri yang akan segera diceraikannya. Sesekali tatapan mereka bertemu dan keduanya melemparkan senyum palsu, mereka tahu benar akan hal itu. Kadang Richard berbasa-basi mengenai masakan yang dimasak istrinya, dan Jenna mennaggapinya dengan baik. Sambil menyesap anggur, Jenna mengamati Richard yang ada di depannya, Menyadari sedang diamati akhirnya Richard bersuara.

”Kau sudah kenyang? Padahal ini sangat enak”.

”Kalau kau mau kau boleh menghabiskan punyaku, aku sudah kenyang”jawab Jenna.

Richard menggeleng, kemudian mengelap mulutnya yang masih menyisakan setitik saus spageti.

”Apa kau menyukainya?”tanya Jenna.

Richard mengangguk. ”Kau lihat,kan bagaimana aku makan tadi, harus kuakui ini benar-benar nikmat”.

Sambil menuang anggur ke gelas suaminya Jennna berkata. ”Sayang sekali, kau tidak bisa lagi menikmati makanan seperti ini, kau tahu kan kita akan segera berpisah, tapi kalau kau mau kau boleh meneleponku untuk datang dan masak untukmu”

”Tidak, kau tidak perlu repot-repot! Masih ada pelayan yang siap memasaknya untukku, aku akan baik-baik saja”. Richard diam sebentar kemudian bertanya, ”Apa kau yakin dengan keputusanmu?”

Jenna mengangkat gelas anggurnya hingga hampir menutupi wajahnya dan menatap Richard dari balik gelas, ia berusaha menebak-nebak apakah suaminya itu merasa sedih bahwa mereka akan segera berpisah, atau justru merasa sebaliknya, ia tidak menemukan keduanya. ”Kau yang membuatnya jadi seperti ini, kau yang memulainya dan kau pasti tahu akhirnya akan seperti apa, dan kurasa kita harus siap!”

”Kuakui aku memang salah, dan aku tidak akan minta maaf, karena aku tahu kau tidak akan memberikannya, tapi kuharap kita masih bisa saling berhubungan setelah ini, kau tahu kan, kita bisa berteman”.

”Sudah berapa lama kau melakukan ini?”tanya Jenna.

Richard tidak menjawab dan hanya melemparkan pandangan tidak mengerti apa yang ditanyakan istrinya.

”Kau dan gadis itu?”

”Baru beberapa bulan”. Sudah jelas Jenna tidak percaya dengan jawaban suaminya, tapi ia tidak mau bertanya lebih jauh tentang itu, tapi ia yakin ini sudah lama sekali jauh sebelum ia mengenal Richard, lalu apa yang terjadi selama perkawinan kami?tanya Jenna dalam hati.

”Kau terlihat bahagia dengan ini semua”.

”Apa itu pertanyaan?”tanya Richard

”Kau punya jawabannya?”. Jenna balik bertanya.

”Aku akan bahagia jika kau juga bahagia, walaupun kita akan bercerai. Hanya itu jawabanku, kurasa”.

”Apa kau merasa aku bahagia?” tanya Jenna kemudian.

”Jenna, kau yang meminta ini semua. Kita telah sepakat ini adalah keputusanmu”

”Dan kau langsung menerimanya, kau tidak memikirkan ini semua. Kukira kau akan memperjuangkan aku...memperjuangkan kita”

”Kau salah! Tidak ada yang harus yang harus diperjuangkan!”jawab Richard sambil berdiri. Beberapa menit kemudian Jenna mendengar deru mesin mobil dinyalakan dan melaju pergi. Kemudian ia mengangkat gelas anggurnya seolah ingin bersulang. ”Terima kasih sudah mau makan malam denganku” katanya pelan



Lillian Clausen mengantarkan suaminya ke kamar tidur, dan menyuruh suaminya untuk beristirahat. Sore tadi mereka baru saja memeriksa kesehatan Robert, Lilian merasa penyakit Alzheimer suaminya sudah memburuk. Tangannya mulai bengkak, siang tadi ia minta makan garlic bread dengan salad padahal 15 menit yang lalu mereka baru makan siang, tapi Robert berkeras bahwa perutnya belum terisi dan mulutnya belum mengunyah apapun. Lilian semakin khawatir akan suaminya, ia berencana akan segera menjual tanah pertanian mereka dan pindah ke White Mansion agar ada yang merawat Robert apalagi sekarang ia pun sudah mulai mudah letih. Para pegawai pun akan mendapat yang cukup besar untuk mereka bertahan dan mencari pekerjaan, tapi Lillian berharap seseorang yang membeli tanah mereka agar segera meneruskan usahanya dan para pegawai pun bisa tetap bekerja.

Lillian mengeluarkan beberapa butir obat dan memberikannya pada suaminya. ”Minumlah ini, kau akan segera bisa beristirahat. Dokter menyuruhmu banyak melakukan hal itu, biar Joe yang mengurus pertanian untuk sementara kau sakit, aku juga akan segera mengurus kepindahan kita ke White Mansion” ujar Lillian.

”Bukankah aku baik-baik saja, kau yang terlihat pucat, sayang. Apa kau sakit?”

Lillian menggeleng pelan sambil tersenyum. ”Aku baik –baik saja, minumlah ini! Kau pasti akan merasa jauh lebih baik.”

Sambil mendesah kesal Robert melakukan apa yang dikatakan istrinya. Sambil memandangi suaminya Lillian berpikir, apakah mereka akan harus benar-benar pindah dari sini?, tanah pertanian ini sudah menjadi rumah mereka selama puluhan tahun, sulit rasanya meninggalkan apapun yang telah menjadi bagian dari hidup mereka.

Setelah Robert terlelap, Lillian meninggalkan kamar mereka dan memakai jaket suaminya, kemudian ke dapur dan membuat teh panas. Lillian kemudian membawa teh beserta nampannya ke ruang tamu, ia biasa bersantai di sana sekarang menjelang malam, kadang Robert menemaniya juga. Lillian memandang keluar sambil mentesap teh yang masih mengepul, dari jendelanya terlihat asisten keluarga mereka Joe yang tengah memarkirkan sedan mewah berwarna hitam ke garasi samping rumah.



Laurie menutup laptopnya dan menguap pelan, ia baru saja menyelesaikan makalahnya yang akan segera diserahkan ke dosen Sejarah Kebuadayaan Perancisnya. Dibelakangnya Jessica tengah berbaring telungkup ditempat tidur mendengarkan musik melalui I Pod sambil membaca People edisi terbaru, foto Paris Hilton tengah memakai bikini menghiasi cover majalah tersebut, di sana juga tertulis: Paris dan Lindsay menghadiri pesta liar Britney semalam.

”Apa saja yang mereka lakukan?” tanya Laurie sambil melempar Jesica dengan bundelan kertas.

”What?” kata Jessica melepas I Pod milknya. Laurie mengangguk ke arah majalah yang dipegangnya. ”Biasalah, pesta liar..sex, drugs, wine, dan sejenisnya. Aku benar-benar ingin bergabung dengan mereka” kata Jessica jujur.

Laurie mengangguk setuju.”Pasti menyenangkan bisa ada di sana, tempat itu pasti sangat meriah”

”Pastinya, oh iya, kau masih ingat orang tua yang marah-marah di upacara kematian Ellie Smith, tadi aku bertemu dengannya di rumah sakit, sepupuku sedang dirawat di sana.”Jessica menjelaskan. ”Dia adalah salah satu orang terkaya di Salem Falls, pemasok seluruh sayur dan buah kebutuhan dikota ini, namanya Robert Clausen ia datang bersama istrinya Lillian”.

”Bagaimana kau mengenal mereka?” tanya Laurie.

”Tentu saja semua orang mengenal mereka, mereka adalah pasangan yang baik, tapi agak kurang bergaul apalagi setelah kematian puteri satu-satu mereka. Kasihan, terutama Robert. Sepertinya akhir-akhir ini ia agak kurang sehat. Ada gosip aneh yang beredar tentang mereka” Jessica berhenti bicara dan menunggu reaksi temannya. Dilihatnya alis Laurie terangkat ke atas dan ia mengubah posisi duduknya. ”Aku tahu kau akan menyukai ini” kata Jessica sambil nyengir.

”Sudah katakan saja ada apa!” kata Laurie tidak sabar.

”Sekitar enam atau tujuh tahun lalu di perkebunannya yang luas itu ditemukan darah manusia yang berceceran, kalau tidak salah saat itu Andrea juga menghilang. Tapi tidak ada yang tahu itu darah siapa karena Andrea juga tidak ditemukan dan kita tahu kan kerangkanya baru ditemukan beberapa hari yang lalu”

”Lalu apa yang aneh dengan mereka? Ini cuma kebetulan ada darah di kebun mereka”.

”Aku belum selesai! Sejak itu beredar desas desus kalau kedua orang itu adalah penyihir, maksudku mereka menggunakan korban, mantra-mantra sebaggai persembahan. Saat itu adalah musim dingin yang sulit, aku juga tidak mau percaya tapi beberapa minggu kemudian mereka adalah orang yang paling sukses di musim yang parah seperti itu, hal itu tentu saja menimbulkan desas-desus aneh, walaupun mereka tahu sedang dipergunjingkan, tapi mereka tetap bersikap seperti biasa, mengunjungi acara- acara amal dan berpartisipasi dalam pembangunan kota”.

”Kalau begitu, mereka berjasa bagi kota ini kan, mengapa masyarakat masih membicarakan hal-hal yang tidak ada buktinya?”

”Memang tidak ada bukti apapun, akhirnya gosip itu pun mereda dan munculah kejadian sekarang, maksudku Ellie dan tulang-tulang yang kemungkinan milik Andrea ditemukan, masyarakat mulai mengaitkan ini semua ditambah kejadian aneh di upacara beberapa hari lalu, mereka makin merasa tersudut”

”Apa menurutmu mereka ada hubungannya dengan ini semua?”tanya Laurie.

”Entahlah, tapi aku jelas tidak percaya dengan yang namanya penyihir dan sejenisnya”jawab Jessica kemudian kembali memasang I Podnya dan melanjutkan membaca.

Laurie kembali menghadap laptopnya dan memikirkan apa yang baru dikatakan sahabatnya itu. Apa mungkin semua ini saling berhubungan, kejadian tujuh tahun yang lalu dengan peristiwa beberapa hari yang lalu, aku akan ke rumah Lisa dan Joanna besok, kata Laurie dalam hati.

Sebelum istirahat Joanna kembali masuk ke kamar puterinya untuk mencari lebih banyak informasi, ia merasa Ellie menyembunyikan banyak hal yang tidak diketahuinya, Joanna mengira sebagai seorang ibu ia telah membesarkan Ellie tentang kejujuran, tapi Joaana menduga lingkungan yang mengubah seseorang berubah apalagi ditambah Ellie telah ditinggal ayahnya.

Joanna membuka laci meja yang paling bawah yang terletak di samping kamar tidur putrinya, kemudian meraih buku harian Ellie dan membukanya. Berbeda dengan kemarin yang telah dibacanya, kali ini lebih banyak cerita kalau ia tengah naksir seorang pria di kampusnya, sesekali Joanna tersenyum membacanya, namun rautnya kembali berubah saat melihat nama Nixon tertulis di sana. Joanna yakin Ellie terlibat sesuatu dengan pria itu . Lembar berikutnya lebih membuat Joaana penasaran, Ellie bercerita kalau ia telah diawasi oleh seseorang, ia juga sering mendapat telepon iseng dari seorang wanita yang tidak ia kenal. Kening Joanna berkerut. Wanita? dalam hati ia bertanya-tanya, ada apa lagi ini?. Joanna kembali melanjutkan membaca. Setiap hari setidaknya ia mendapat telepon aneh yang mengatakan kalau ia akan dibunuh, teror itu berakhir dua hari sebelum kematian Ellie, di akhir halaman Joanna juga menemukan kalau Ellie baru saja putus dengan pacarnya karena pria itu lebih memilih dengan pelacur.

Joanna menarik nafas panjang dan meletakan buku itu kembali ke tempatnya kemudian sambil berbaring di tempat tidur Ellie, ia berusaha mencari tahu siapa wanita yang dimaksud Ellie, ia kemudian menduga wanita itu adalah pelacur yang dimaksud Ellie, tapi apa mungkin hanya karena berandal itu mereka saling berebut? tanya Joanna dalam hati. Joanna memutuskan akan mencari tahu besok saat matanya mulai terlelap sambil memeluk bantal puterinya.



21 November 2008

Laurie memasukkan semua buku-bukunya kedalam tas ranselnya, ia juga membawa tugas yang baru saja diselesaikannya semalam. Hari ini adalah hari terakhir pengumpulan makalah tersebut, bagi yang telat dosennya tidak akan meluluskan mata kuliah itu dan baru akan diterima semester depan. Hari ini tidak begitu banyak mata kuliah yang akan ia ikuti, setelah selesai ia memutuskan ke rumah Joanna lalu kembali ke 24’rest untuk bekerja.

”Kau mau datang nanti malam?”tanya Jessica yang tengah becermin dan mengatur rambutnya.

”Nanti malam? Aku bahkan tidak tahu ada apa?”

”Apa aku belum memberitahumu? cowok baru itu, Daniel Spencer. Ia mengadakan pesta kelulusan setelah mendapat SIM, dasar orang kaya, selalu pesta setiap ada hal aneh dan menyenangkan. Sepertinya pesta tersebut akan diadakan dibelakang rumahnya yang luas. Semua mahasiswa X University diundang, entah akan seperti apa nanti, kurasa Disney Land akan pindah ke sana”

”Aku tahu dia, anak baru itu!”. kata Laurie sambil tersenyum.

Jessica menatap sahabatnya dengan pandangan menyelidik. ”What! cepat sekali gerakanmu, aku bahkan belum pernah melihatnya”.

”Bisa dibilang itu kecelakaan, kami tidak sengaja bertabrakan di depan kampus, dia bertanya di mana perpustakaan. That’s it!”

”Bertemu dengan cowok tampan jelas bukan kecelakaan. Kurasa Daniel bagaikan oase di tengah cowok-cowok kampus dengan tampang gersang dan menyebalkan, di pikiran mereka cuma ada wanita dan seks. anyway, kau akan datang?” tanya Jessica lagi.

”Entahlah, aku harus kerja dan aku akan ke rumah Joanna lagi. Aku ingin mencari beberapa hal lagi.”

Jessica memandang Laurie sambil menggeleng. ”Kau terobsesi seperti layaknya kau akan memecahkan kasus ini, ini bukan tugasmu,girl. Bersenang-senanglah,berpesta layaknya gadis seusia kita. Oke, jika kau datang untuk menghibur Joanna, tapi aku tahu maksudmu bukan seperti itu, kau akan main detektif-detektifan dan itu jelas mengundang bahaya”.

”Jess, aku hanya berusaha menghilangkan rasa penasaranku, sepertinya ada yang mengganjal jika aku hanya diam diri, aku juga tidak tahu kenapa aku ingin tahu sampai semua ini selesai”

”Laurie, ada pembunuh gila yang mengincar gadis-gadis muda di luar sana, kalau kau mencari tahu tentang ini dan orang itu tahu, sama saja kau menawarkan diri untuk menjadi korban berikutnya”.

”Aku akan hati-hati, tenang saja!”

Jessica hanya memandang kasihan pada sahabatnya.”Jangan bertindak terlalu jauh! Kata Jessica.

Laurie menangguk.

”Jangan melakukan hal-hal aneh, jangan sok tahu, jangan lewat jalan-jalan sepi dan gelap, jangan bertindak sok detektif, jangan mendahului polisi.” kata Jessica .

Laurie memutar bola matanya kemudian berjalan keluar menuju kampusnya, sementara Jessica mencoba baju-baju yang akan dikenakannya malam nanti.



Jack tiba di kantornya pagi itu dengan masih agak mengantuk, semalam ia pulang ke rumah hampir tengah malam, dan sekarang harus berangkat pagi-pagi sekali untuk melanjutkan menyelidiki kasus yang ada. Insting polisinya bekerja, ia merasa hari ini akan ada titik terang untuk kasusnya. Saat masih di rumah Dorothy cuma bilang ke suaminya agar tidak terlalu memikirkan kasus itu. Jack sudah cukup tua dan sebentar lagi akan pensiun.

”Berikan saja pada yang lebih muda”.kata istrinya pagi tadi. ”Kau sudah bekerja sangat keras, kau berhak beristirahat. Kemarin aku mengunjungi White Mansion untuk bertanya-tanya dan mencari tipe yang murah dan nyaman untuk kita, luar biasa Jack, tempat itu begitu indah, tipe yang paling murah pun sangat nyaman untuk ditinggali”.

”Kau tahu aku belum bisa melakukannya sekarang, aku akan menyelesaikan semua ini baru aku bisa tidur nyenyak, percuma saja kalau kita pindah ke sana, tapi aku tidak bisa tidur”.

Dorothy memeluk suaminya dari belakang dan mengusap punggung pria itu. ”Kau pasti bisa menyelesaikannya, aku tahu itu”.

Jack berbalik dan mencium istrinya dengan lembut, ”terima kasih, sayang. Aku janji begitu semua ini selesai, kita akan langsung mengemasi barang-barang kita”

Begitu sampai di ruangannya, Jack sudah bisa mendengar suara-suara orang mengetik komputer, dering telepon di sana sini serta aroma kopi panas yang mulai membuatnya bersemangat. Begitu ia duduk di kursinya ia mendengar pintunya diketuk, dan anak buahnya Nick masuk sambil membawa dua gelas kopi yang masih mengepul. Nick baru ingin berbicara tapi Jack segera menghentikannya. ”Biarkan aku menikmati sedikit, baru kau boleh mengoceh”.

Setelah Jack meletakan gelasnya, Nick segera mengatakan apa yang ia ingin katakan. ”Well, kita akan segera mendapat hasil DNA itu sore ini, jika tulang-tulang itu adalah milik Andrea, aku yakin pembunuhnya adalah orang yang sama dengan pembunuh Ellie Smith dan itu akan memudahkan kita untuk melakukan penyelidikan”

”Apa menurutmu dia adalah orang yang sama?”tanya Jack

”Aku mempunyai firasat seperti itu.”

Firasat, kata Jack dalam hati. Seorang polisi harus mengungkapkan kejahatan dengan fakta berdasarkan hasil penyelidikan dan investigasi, tapi firasat dan ketajaman insting seorang polisi jelas sangat membantu proses penyelidikan, Jack teringat saat ia masih seangkatan Nick dan bertugas di pedalaman Rocky Mountain, ia dan polisi lain mengandalkan firasat atasannya guna mengungkap kejahatan seorang pembunuh phedofilia yang menculik belasan anak, melakukan kekerasan seksual, lalu membunuh mereka dan menguburnya di gudang bawah tanah rumahnya. Tapi Jack tidak mempunyai firasat tajam seperti atasannya dulu, apa ia harus mengandalkan Nick? yang benar saja, kata Jack dalam hati.

Setelah makan siang berupa sandwich tuna dan secangkir kopi Jack menerima hasil tes DNA antara Lisa Cornwell dan kerangka yang ditemukannya beberapa hari yang lalu, hasilnya seperti yang mereka duga sebelumnya bahwa ada kecocokan antara kedua DNA tersebut, Jack segera menghubungi Lisa bahwa kerangka tersebut adalah milik putrinya dan ia bisa mengambilnya besok untuk dimakamkan atau dikremasi. Lisa hanya bisa menangis tertahan saat dihubungi namun sekaligus lega bahwa putrinya telah ditemukan walaupun hanya dalam keaadaan seperi itu. Ia segera mengucapkan terima kasih pada polisi yang Jack yang telah mengkonfirmasi hal tersebut dan akan segera mengambil kerangka putrinya besok.

”Ibunya akan mengambilnya besok!” kata Jack pelan pada Nick.

Nick segera menyerahkan ampop coklat yang dari tadi dipegangnya kepada Jack. ”Ini daftar warga Salem Falls yang mempunyai mobil BMW hitam, tidak sulit mendapatkannya hanya puluhan orang mengingat ini adalah kota kecil”.

Jack menelusuri nama-nama tersebut satu persatu, sesekali alisnya terangkat atau menyipitkan mata, ada beberapa nama yang menarik perhatiannya terutama orang-orang yang mengenal keluarga Smith dengan baik. Richard dan Jenna Nixon, sang suami mengajar di kampus tempat Ellie kuliah,istrinya menurut Dorothy mempunyai butik yang tidak terlalu mewah namun menarik, lebih dari separuh wanita muda Salem Falls berbelanja baju di sana, bahkan ada yang pernah melihat Mariah Carey berkunjung dan membeli beberapa bra, kemungkinan ia mengenal Ellie, menurut istrinya yang mendengar gossip di toko kelontong pasangan tersebut sedang kurang harmonis, dan sesekali ada pertengkaran. Kemudian pasangan tua yang cukup dihormati, suami istri Clausen, mereka jelas yang menangani pasokan pasar sayur dan buah ke seluruh kota, Robert bertindak aneh saat upacara kematian Ellie Smith, akhir-akhir ini berita mengenai penyihir jelas amat gencar dan pasangan tersebut adalah tersangka utama oleh para warga yang mempercayainya. Teddy William Sr., bukankah putranya mantan pacar Ellie? kata Jack dalam hati, ada saksi yang melihat Ted mengendarai mobil tersebut saat ke pesta Sarah Lee. Kemudian ada Gina Currington, Ray Nichols dan lain-lain. Jack segera menggaris bawahi orang-orang yang kemugkinan mengenal Ellie, ia akan memulai penyelidikannya dari sana, memang agak melelahkan, tapi tidak ada cara lain, sebagai awalnya ia akan berbelanja sayuran ke perkebunan Clausen.



Lisa segera menghubungi beberapa kerabatnya dan mengatakan bahwa Andrea telah ditemukan, walaupun sambil menangis ia berusaha tegar dan sabar, ia juga mengatakan tulang Lisa akan dikremasi saja, ia sudah tujuh tahun dikubur, untuk apa lagi membuatnya tersiksa dalam tanah, kata Lisa menelepon adik laki-lakinya. Adik laki-laki Lisa tinggal di Long Island dan mengatakan akan datang besok pagi-pagi sekali untuk membantu proses kremasi Andrea.

Akhirnya sekarang Lisa bisa merasa lega dan tidur nyenyak, ia tidak akan lagi khawatir bagaimana nasib puterinya, walaupun masih ada pertanyaan besar di kepalanya, siapa yang melakukan semua ini dan mengapa?. Saat Lisa berusaha mencari jawabannya, ia mendengar pintu rumahnya diketuk seseorang. Saat membuka pintu ia mendapati wajah Laurie yang tersenyum padanya kemudian ia sudah merasakan gadis itu memeluknya.

Mereka duduk di dapur Lisa, Kemudian Laurie mencium aroma lezat yang sudah lama ia tidak rasakan seperti di rumah dulu saat ibunya masih hidup. Lisa mengeluarkan butter cake dari oven dan aroma harum langsung memenuhi ruangan. ”Aku sudah menduga kau akan kemari, aku sudah menyiapkan ini, kebetulan sekali baru matang”.

”Entah sudah berapa lama aku tidak merasakan makanan ini, aku sudah merasakannya yang ada di dekat kampus tapi rasanya benar-benar beda dengan yang dibuat ibuku” kata Laurie terus terang.

”Kalau begitu kau harus mencoba buatanku, jelas tidak sama dengan buatan ibumu, tapi kurasa jauh lebih baik dari yang dijual di toko dekat kampusmu” saran Lisa

Tanpa ragu Laurie mengambil potongan besar cake tersebut dan memasukkannya ke dalam mulutnya, kemudian mengangguk karena rasa nikmat yang ada dilidahnya, ia ingin mengatakan sesuatu tapi sulit bicara karena mulutnya penuh. ”Lebih baik kau telan dulu, aku tahu apa yang ingin kau katakan” ujar Lisa sambil tersenyum dan menyodorkan secangkir teh hangat. Laurie mengambil cangkir itu kemudian meminumnya hingga setengah.

”Harus kuakui, memang beda dengan ibuku, tapi jauh lebih baik dari yang ada di dekat kampus, ini benar-benar enak. Kenapa kau tidak membuka toko kue saja? Dari pada hanya bekerja di toko swalayan kecil, tentu saja kau akan mendapat penghasilan lebih” kata Laurie.

Lisa menggeleng. ”Aku pernah mencobanya, tapi gagal, aku akan mencobanya lagi tapi tidak sekarang.

Laurie menyesap kopinya kemudian meletakan kembali gelasnya ke cangkir. ”Aku sudah melihat beritanya, ini pasti berat buatmu, tapi aku tahu kau sedikit lega, Andrea sudah ditemukan”

”Begitulah, akhirnya perasaan cemas ini berakhir, akhirnya aku bisa tidur nyenyak lagi, tapi aku masih berharap semua ini bisa terungkap”

Laurie menggenggam tangan Lisa dengan lembut ”Ini akan berakhir” katanya pelan.

Laurie tidak tinggal lama ia akan mampir lagi ke rumah Joanna Smith, kemudian akan bekerja hingga tengah malam, kalau masih punya tenaga ia akan datang ke pesta itu, dan mendadak ia teringat kepada siapa yang mengadakan pesta itu, pria yang tidak sengaja menabraknya kemarin, Daniel Spencer. Rambutnya yang gelap, matanya yang tajam. Oh! Shit! Apa yang sedang kupukirkan, kata Laurie pelan, wajahnya memerah.

Joanna tengah menyaksikan berita malam saat Laurie datang, berita mengenai ditemukannya kerangka di tempat pembuanganmayat masih menjadi headline di semua satsiun TV, Joanna mengenal Lisa Cornwell, ia sering berbelanja di swalayan tempat wanita itu bekerja, Joanna merasa mereka adalah wanita yang sama, para ibu di usia 30-an yang sedang memendam kesedihan yang mendalam.

”Masuklah, aku sedang menjerang kopi di dapur, kita akan berbincang di sana saja” kata Joanna pada Laurie begitu gadis itu masuk.

Sementara Laurie duduk di dapur, Joanna kembali ke dalam dan membawa sesuatu yang sepertinya buku harian. ”Mungkin kau mau melihat ini, aku belum menyerahkannya pada polisi, kurasa aku kan mencari tahu sendiri mengenai kebenaran yang ada di sana”

”Apa maskud anda?apakah ini milik Ellie?”tanya Laurie tidak mengerti.

Joanna mengangguk. ”Bacalah, kau akan mengerti!”

Laurie membaca halaman-demi halaman buku harian milik Ellie, alisnya berkali-kali mengernyit, dan mulutnya membentuk huruf O, ia masih tidak menyangka, ternyata Richard ada hubungan dengan Ellie.

”Maksud anda, dosen saya ada hubungannya dengan kematian Ellie?”tanya Laurie setelah selesai membaca, ia menyerahkan kembali buku itu pada Joanna.

”Aku mengira seperti itu, kurasa Richard sangat terobsesi pada puteriku, aku bisa melihatnya sejak suamiku membawanya ke rumah kami, di tambah pengakuan Eliie melalui buku ini”

”Terserah anda mau percaya apa tidak, menurut temanku aku sedang main detektif-detektifan, tapi aku sedang mnyelidiki semua kejadian ini, dan menurutku kematian Ellie ada hubungannya dengan ditemukannya kerangka Andrea Cornwell”

”Aku sudah melihat beritanya, Lisa yang malang. Mungkin suatu hari kami bisa minum teh bersama sambil berbagi perasaan, lalu apa yang mendasarimu punya pikiran seperti itu”

”Entahlah, tapi aku sangat yakin pelakunya adah orang yang sama”