Minggu, 31 Januari 2010

The Myth (The Final Cut)

Tanpa disangka-sangka Richard datang membawa istrinya di pesta yang diadakan Daniel Spencer, walaupun sebenarnya itu pesta khusus mahasiswa, Daniel sudah mencaritahu siapa dosen yang paling populer, akhirnya ia ikut mengundang Richard sebagai tamu kehormatan.

Jenna sebenarnya sangat malas dan tidak nyaman datang ke pesta para anak ingusan seperti ini, sangat berisik, berbau alkohol, musik yang mengerikan dan juga seks yang tidak teratur. Jenna merasa jijik saat ia memandang pemandangan di bawah meja. Ia yakin itu adalah Stoneface, permainan sex yang sedang populer di antara remaja dan mahasiswa, sekelompok pria duduk mengelilingi meja tanpa menunjukan emosi apapun dengan celana melorot, seorang gadis di bawah kursi menyesap salah satu penis mereka, kemudian semua harus menebak siapa pria yang beruntung itu.



Merasa mual Jenna keluar ruangan dan ke teras mencari udara segar, klau bukan Richard yang memaksa, ia tidak akan datang, Richard mengatakan, gosip megenai mereka akan bercerai di kampus sangat gencar, Richard hanya ingin merasa aman dari gadis-gadis liar di pesta ini, karena mereka tidak akan berani selama Jenna di sampingnya.

”Permisi apakah anda Jenna Nixon ? Aku pernah melihat Anda bersama Prof. Richard, anda cantik sekali malam ini”

Dalam hati Jenna merasa senang keputusannya memakai gaun pendek berwarna hitam sangat tepat dipakai malam ini, dan siapakah gadis di depannya yang hanya mengenakan jeans dan t-shirt.

”Saya Jessica, saya juga mahasiswa Prof. Richard seperti semua yang ada di sini, Anda suka pestanya”

”Tidak terlalu, tapi dari pada di rumah menonton berita-berita yang mengerikan, lebih baik saya mencari suasana baru”

”Anda benar, Salem Falls akhir-akhir ini sangat mencekam, anda percaya dengan mitos yang ada? Penyihir , ritual dan sejenisnya?”tanya Jessica.

”Itu cuma berita sampah yang dihembuskan masyarakat, saya cukup lama tinggal di kota ini, dan baru mendengar cerita aneh seperti itu”jawab Jenna.

”Anda benar!Aku punya teman sekamar di apartemen yang sedang main detektif-detektifan, tapi menurutku di sungguh-sungguh!”

”Maksudmu?”Jenna tampak sangat tertarik.

”Ia yakin kematian Ellie dan ditemukannya kerangka tersebut ada hubungannya, bukankah itu aneh?ia sampai menyelidiki semuanya, ke rumah Ellie, dan Lisa, ibu gadis yang kerangkanya ditemukan itu”

Dalam hati Jenna bertanya-tanya, sejauh mana teman gadis ini tahu. ”Lalu sudah sejauh mana penyelidikan temanmu?” tanya Jenna seolah-olah tidak peduli.

”Entahlah, aku tidak terlalu mau tahu!, tapi sepertinya ia sudah melakukan banyak hal!” kata Jessica.

Dengan alasan sedang ada urusan, Jenna mengatakan pada Richard ingin pulang lebih dahulu, ia akan naik taksi saja. Kemudian di dalam taksi, ia menekan nomor pada ponselnya dan menghubungi seseorang. ”Ya, aku punya informasi penting untuk anda”

Jack segera meletakan telepon yang baru saja diterimanya, Jenna Nixon baru saja mengubunginya, ia dan Nick segera melaju ke arah rumah Jenna, dalam hati Jack bertanya-tanya informasi seperti apa yang akan mereka dapatkan dari wanita itu. Kalau ini cuma gosip murahan antar sesama wanita pesolek, ia akan meninggalkannya detik itu juga.



Richard yakin ada yang tidak beres saat ia sampai di rumah, ada mobil pilisi diparkir di depan rumahnya, tapi ia lebih terkejut lagi begitu masuk.

”Maafkan saya Prof. Nixon, anda harus ikut dengan kami!”kata Jack.

”Jack, ada apa ini? Jelaskan padaku!”

”Istri anda sudah mengatakan semuanya.”

Richard menoleh ke arah istrinya.

”Aku sudah mengatakan pada mereka tentang foto-foto itu,”

Richard baru sadar, laptopnya da di meja tamu. ”Dasar wanita sialan!”. Iahendak maju dan mencekik istrinya, tapi polisi di depannya langsung menghadangnya dan membawanya ke mobil.

”Jack kau sudah mengenalku, aku tidak melakukan apa-apa!” ujar Richard begitu sampai sampai di kantor polisi dan duduk di salah satu ruangan.

”Santai saja Richard, kita tidak usah terburu-buru, sekarang ceritakan semua dari awal, bagaimana hubunganmu dengan Ellie Smith?”



Laurie sudah ketinggalan pesta saat ia baru datang, separuh tamu sudah mabuk, bahkan ada yang terkapar di lantai, musik slow masih mengalun di sudut ruangan, saat menuju meja makan dan hendak mengambil wine, tapi di sana sudah tersisa papun, semuanya habis. Ia mambalikan badan dan merasa kecewa, namun mendadak raut wajahnya berubah.

”Kenapa lama sekali?” tanya Daniel sambil mengulurkan segelas wine. ”Aku sudah menyiapkannya untukmu”

Laurie tidak bisa menyembunyikan perasaanya saat itu, bagaimana mungkin ia menolak wine itu, kemudian meraih gelas yang di sosorkan Daniel.

Mereka berdiri di teras rumah Daniel, bersandar pada pagar sambil menatap langit malam, sudah tengah malam, tapi masih ada saja orang yang datang.

”Aku beruntung karena masih ada yang tersisa! Bagaimana dengan mereka?” tanya Laurie.

”Masih ada beberapa kaleng soft drink di lemari es serta keripik kentang sekantung besar,”kata Daniel sambil tertawa kecil, yang membuat lesung pipinya terlihat jelas.

Pria ini benar-benar manis.

”Hei!kurasa aku belum tahu namamu,kan?”tanya Daniel.

”Ya, aku Laurie. Kau mahasiswa jurusan apa?”

”Aku mengambil Matematics Sains”jawab Daniel.

”Otakmu pasti benar-benar luar biasa!”ujar Laurie.

Mereka berdua tersenyum, kemudian mereka terus berbincang mengenai kuliah, kampus, hingga yang paling hangat adalah mitos yang ada.

”Kau percaya dengan semua itu?”tanya Daniel.

Laurie menggeleng ”Aama sekali tidak, aku yakin ada hal lain di balik semua ini”

Mereka terus mengobrol hingga pesta usai menjelang pagi. Daniel mengantar Laurie dan Jessica yang masih mabuk pulang ke apartemennya.

”Thanx for the party!”kata Laurie, saat Daniel meniggalkan mereka. Daniel tersenyum dan melambaikan tangannya.


Bab 6

22 November 2008

Berita ditangkapnya Richard Nixon langsung menjadi perbincangan panas di kalangan kampus, bagaikan virus yang cepat menyebar, berita tersebut sekarang sudah sampai ke telinga warga Salem Falls, walaupun belum disiarkan televisi sekalipun. Sekarang puluhan wartawan yang kelaparan sedang ada di luar kantor polisi menantikan sarapan pagi mereka.

”Kita tidak bisa seperti ini terus!” kata Jack

”Mereka akan tetap di luar sana mengerubungi tempat ini,sir! Anda harus membuat pernyataan”

Begitu Jack keluar senua kamera terarah kepadanya, semua microfon teruslur ke wajahnya, ia berdeham sebentar kemudian bicara.

”Kepolisian sudah menahan Prof. Richard Nixon tadi malam, kami sudah melakukan pemeriksaan dan ia sudah mengakui suatu hal”

”Apakah ia ada hubungannya dengan pembunuhan Ellie Smith?” tanya seorang wartawan. ”Apakah ia juga ada hubungannya dengan kerangka tersebut?”. ”Apakah prof. Nixon seorang phedofilia?.

”Aku belum selesai bicara”ujar Jack. Nick yang ada di sampingnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pada wartawan yang memberondong mereka dengan pertanyaan.

”Richard Nixon sudah mengakui kalau ia sudah melakukan pembunuhan terhadap Andrew Smith, kami sudah mendapat motifnya. Mengenai semua yang kalian tanyakan tadi, kami sedang menyelidikinya. Sekian” kata Jack kemudian ia masuk kembali ke kantornya. Puluhan wartawan di luar masih berteriak dengan pertanyaan yang sama, Nick yang disampingnya pun menjawab dengan seadanya, bahwa semuanya masih dalam penyelidikan.

Jack bersandar pada kursinya, ia membayangkan Richard yang mengaku beberapa jam yang lalu, ia mengaku telah membunuh Andrew Smith, tapi ia juga bersikeras tidak mengetahui apapun tentang kematian Ellie Smith, apalagi mengenai kerangka itu, tampakanya ini akan jadi semakin sulit, kata Jack dalam hati. Tapi juga semakin menarik.

”Mereka benar-benar luar biasa!”kata Nick begitu masuk ke ruangannya sambil membawa dua cangkir kopi panas.

”Kau menyukainya kan?”

”What?” tanya Nick tidak mengerti.

”Publikasi itu, bukankah kau sudah masuk TV,”

Nick tampak malu-malu mendengarnya.

”Mereka masih di sana?”tanya Jack.

”Sebagian sudah pergi, tapi sebagian lagi tetap di tempatnya.”

Jack mengangguk mendengarnya, setidaknya ia tidak akan keluar hingga menjelang sore nanti. Ia tidak mau menjadi sasaran empuk.



Di tempat berbeda Joanna Smith hanya bisa menangis menyaksikan berita di TV, tapi ia juga lega, setidaknya satu misteri telah terungkap, tapi ia masih bertanya-tanya untuk apa Richard melakukannya, apa mungkin ada hubungan dengan apa yang di bacanya di buku harian Ellie? Kemudian ia membuat keputusan akan membuat copy buku harian tersebut dan menyerahkan aslinya pada pilisi siang nanti. Ia masih yakin kalau Richard juga terlibat atas pembunuhan Ellie, ia akan meminta penjelasan pada polisi nanti.

”Tidak kusangka orang itu pelakunya, aku tahu dia, dosen tampan itu, saat aku ke swalayan, gadis-gadis muda menyebut-nyebut nama itu!” kata Lillian di rumahnya.

Robert duduk di depan perapian, menonton TV sambil menum teh herbal yang dibuatkan Lillian untuknya. ”Apa benar begitu, bagaimana gadis itu? Apa benar pelakunya dia juga?”

”Kita belum tahu, sayang! Semua masih diselidiki pilisi.” jawab Lillian.

Robert hanya mencibir.” tidak mungkin berhasil, ini pasti ada hubungannya dengan ritual tahuan itu, mereka kembali mulai musim ini Lillian, pa kau tidak tahu itu!”

Lillian mendesah panjang sambil menggelengkan kepalanya ”sudahlah, minum saja tehmu!”

Laurie menyaksikan berita pagi itu dari atas tempat tidurnya sambil menikmati kopi panas dan waffle yang dilumuri sirup anggur, Jessica yang menginap di kamarnya dan tidur di sampingnya tampak masih terlelap, kemungkinan siang nati ia baru akan bangun. Sambil menggigit wafflenya, Laurie teringat buku harian Ellie, tapi apa mungkin Prof. Richard yang membunuh Ellie? Laurie bertanya-tanya. Ia bertekad akan terus menyelidikinya.

Hari ini Laurie tidak ada kuliah, tapi ia yakin dikampus pasti penuh dengan wartawan, ia akan bekerja beberapa jam, kemudian akan ke rumah Joanna sore nanti, kalau boleh ia akan meminta copy buku harian itu, siapa tahu ia melewatkan sesuatu. Ia merasa yakin semua kematian ini saling berkaitan, tapi ia kurang yakin kalau Richard yang membunuh Andrea dan Ellie, apa alasannya? Kemungkinan besar Richard membunuh ayah Ellie adalah karena ia gelap mata akibat cacian Andrew, Joanna telah menceritakannya tentang pertengkaran itu, suaminya beberapa kali memarahi Richard habis-habisan, agar pria itu menjauhi puterinya, tapi Richard tidak melakukannya, justru endekatan semakin gencar. Hari itu tidak biasanya Andrew belum pulang hingga malam, padahal ia tidak ada jadwal kuliah malam, Joanna berusaha menghubungi ponsel suaminya berkali-kali, tapi tidak ada jawaban, menjelang tengah malam, datanglah polisi dan pihak universitas yang memberitahukan semuanya.

Richard Nixon meringkuk dalam selnya, kepalanya terbenam antara kedua siku dan lututnya, ia kembali teringat usahanya untuk mencapai karirnya seperti sekarang, usaha kerasnya untuk bekerja dan mengajar di universitas yang menyenangkan di kota kecil, dikelilingi dengan mahasiswi, serta menjadi dosen teladan, mendadak semua itu lenyap dalam waktu semalam. Tapi setidaknya ia sudah agak tenang, rahsianya selama bertahun-tahun yang ia pendam telah terkuak, ia tidak perlu lagi menanggung beban berat itu. Tadi pagi Joanna menjenguknya, ia tidak mengatakan apa-apa, hanya melemparkan tatapan dingin dari luar sel, barangkalai ia ingin tahu seperti apa sosok manusia yang membunuh suaminya jika sudah dipenjara, tapi ia tidak membunuh Ellie, ia tidak mempunyai alasan membunuh gadis itu, ia terlalu mencintainya.



Richard mendengar pintu selnya dibuka, ia menengadah dan petugas langsung membawanya ke ruang interogasi, di sana sudah menunggu Jack, di mejanya ada bertumpuk-tumpuk kertas serta sebuah buku, yang nampaknya seperti buku harian, Richard merara ototnya menegang, ia kembali teringat ucapan Ellie waktu itu.

”Mungkin anda sudah bosan mendengar pertanyaan ini”kata Jack., ”tapi saya tanya sekali lagi, apa kau juga membunuh Ellie Smith?”

”Mungkin anda juga sudah bosan mendengar jawabanku, tapi aku tidak membunuh Ellie!” jawab Richard tegas.

”Anda punya mobil sedan mewah, Professor?”

”Ada banyak orang yang mempunyai mobil seperti milikku di kota yang kecil ini!” jawab Richard pelan.

”Aku tidak tanya orang lain, apa kau punya?”

”Aku punya, tapi itu bukan milikku, itu milik istriku!”

”Di mana anda pada tanggal 17 November tengah malam lewat?” tanya Jack.

Memori ingatan Richard bergerak mundur, saat itu ia tengah ada kuliah malam, lalu pulang pukul 9.00, ia tidak langsung pulang, ia pergi ke bar jauh di pinggiran kota, sebenarnya ia mau datang ke pesta Sarah Lee, tapi ia memutuskan tidak ikut, ia mengemudikan mobilnya ke sebuah bar di pinggir kota, ia minum terlalu banyak, seorang wanita mendekatinya, kemudian yang ia ingat ia terbangun pukul 2.30, ia berusaha mengingat-ingat kejadian waktu itu, wanita itu, ia terlalu bnayak minum, karena saat bangun ia dan wanita itu sudah terbaring telanjang di kamar salah satu bar, ia pulang ke rumah menjelang pukul 3.00.



Jack berusaha menyerap apa yang dikatakan Richard, kemudian ia segera memanggil Nick dan berbisik kepada anak buahnya itu. Ia menyuruhnya untuk pergi ke bar yang dimaksud Richard dan segera menghubunginya begitu mendapat informasi dari sana.

Jack mengembalikan Richard ke selnya, kemudian masuk ke ruangannya, ia kembali menghubungkan semua keterangan yang ia peroleh, mobil sedan itu kuncinya, Lacey Hilmer mengatakan kalau seorang wanita mengenakan mantel mahal menaiki mobil tersebut, itu berarti kemungkinan hanya beberapa orang yang akan menjadi tersangka.



Karen dan Sarah tengah duduk-duduk di teras yang luas di area kampus sambil membaca majalah People. Di sekeliling mereka, semua orang membicarakan tertangkapnya Richard Nixon, serta pengakuannya yang mengejutkan, Sarah melihat beberapa mahasiswi semester awal yang mengelap air mata mereka, ia mengira mereka baru saja selesai menangis akibat idolanya ditangkap akibat membunuh, sambil mengunyah permen karet, Karen menatap muak ke arah gadis-gadis yang mengenakan T-shirt bertuliskan ’we need Nixon right now’.

”Apa semua gadis di kampus ini sudah gila, untuk apa mereka bersimpati pada pembunuh, aku memang pengagumnya, tapi setelah yang terjadi, rasa kagumku berubah menjadi benci” kata Sarah.

Karen mengangguk setuju. ”Para looser itu, memang tidak ada kerjaan, mereka bisa ikut ke penjara kalau mau kan, memohon pada polisi untuk menginap satu atau dua malam dalam satu sel dengan Richard!”

Kemudian mereka tertawa. Sarah mendengar ponselnya berbunyi, ada pesan dari Denny. Where u at? I need u now!

Ia melirik ke arah Karen yang tengah asyik membaca, sambil memikirkan alasan yang tepat untuk meninggalkan temannya itu.

”Karen, aku ada kuliah tambahan, waktu itu aku bolos, jadi harus ikut kuliah ini, kau mau menungguku atau ikut?”

”Ikut denganmu kuliah? Lebih baik aku ke penjara bersama Richard, pergilah! Aku akan masih di sini beberapa menit lagi, kemudian pulang!”

Sarah tersenyum, kemudian berlari-lari kecil menuju taman belakang kampus. Di sebuah pohon yang besar Denny Arden sudah menunggunya, ia mengenakan jacket tebal dengan tudung yang menutupi sebagian kepalanya. Mereka saling berpelukan sambil saling melumat bibir.

”Better?”tanya Sarah.

Denny mengangguk. ”Aku melakukan hal yang tepat.”

”Jadi, bukankah selama ini usahamu mengejar Ellie sia-sia, karena ada aku yang siap kapan saja!” ujar Sarah, kemudian berciuman lagi.



Jack sudah mendapat informasi dari Nick mengenai wanita itu, dan semua cocok, Richard punya alibi malam itu, bukan dia pembunuh Ellie. Kemudian ia segera mempelajari kesaksian dari para pemilik mobil sedan itu. Setelah menyaring beberapa kemungkinan serta kesaksian, akhirnya diperoleh beberapa tersangka. Mobil pasangan Clausen, Jenna Nixon, Ted William dan Sarah Lee, walaupun gadis itu mengadakan pesta, tapi tidak ada saksi yang melihat mobil Sarah di depan rumahnya, padahal pada saat pesta dimulai, mobil tersebut masih ada, mungkin karena semua terlalu mabuk malam itu. Jadi, nanti malam ia akan memulai semuanya, ia mendapat firasat bahwa semua kan berakhir malam ini. Jenna Nixon mendapat giliran pertama, walaupun Jack sudah meminta keterangannya saat penangkapan Richard waktu itu, tapi Jack merasa masi ada yang janggal.



Menjelang malam Laurie pulang dari tempat kerjanya, walaupun hari baru gelap, tapi ia merasa aneh, karena jalanan saat itu agak sepi, udara dingin membuat semua orang ingin meringkuk dan bersantai di rumah mereka. Hanya ada beberapa mobil yang diparkir di pinggir jalan yang sepi.

Sambil mendengarkan I-podnya, Laurie berjalan pelan ke rumah Joanna, ia berniat meminta copy buku harian Ellie. Sesekali ia bernyanyi pelan sambil mengusap-usapkan kedua telapak tangannya.

Laurie berbelok ke jalan yang ditumbuhi pohon-pohon besar dikedua sisinya, mirip seperti di hutan, bahkan lampu penerangan jalan tertutup oleh rindangnya pohon yang ada di sekitarnya.



Jack dan Nick berniat ke rumah Jenna Nixon malam itu, Nick yang mengendarai mobilnya, sedabgkan Jack mengamati keadaan sekeliling, ia begitu heran mengapa malam itu tidak seperti biasanya, sepi dan mencekam. Kemudian Jack terbelalak, ia segera memerintahkan Nick untuk mematikan lampu mobil. Didepan mereka ada sebuah mobil sedan hitam sedang bergerak pelan, sama dengan mereka mobil tersebut mematikan lampu depannya.

”Pengemudi mobil tersebut jelas punya maksud tertentu”, kata Jack pelan pada Nick

Samar-samar Jack melihat seorang gadis berjalan santai di depan mobil tersebut, ia tidak menyadari kalau mobil itu tengah membuntutinya, begitu tiba di jalan yang agak gelap, Jack dan Nick melihat dengan mata mereka sendiri, dengan kecepatan penuh mobil itu melaju ke arah gadis itu.



Laurie semakin merinding begitu melewati jalan yang agak gelap, ia kemudian teringat mengenai cerita Jessica mengenai mitos penyihir yang saat ini sedang diperbincangkan, sambil mengenyahkan pikiran aneh tersebut, Laurie mengganti lagunya dengan lagu Kelly Clarkson agar perasaan takutnya hilang, tapi kemudian ia melihat sorot lampu mobil yang terarah padanya dari belakang, Laurie menoleh ia terkejut bukan main saat sebuah mobil melaju ke arahnya, Laurie tidak sempat menghindar, tapi ia berhasil memutar tubuhnya akhirnya mobil itu hanya menyerempet tubuhnya sebelum menabrak sebuah pohon besar dan berhenti di sana.



Jack dan Nick segera keluar dari mobil begitu melihat gadis itu terserempet dan terjatuh, dan tubuhnya membentur aspal. Nick segera membantu gadis itu berdiri sedangkan Jack berlari menuju mobil yang menabrak itu, ia segera membuka pintu kemudi dan membelalakan matanya. Ini akan jadi berita terheboh tahun ini, pikirnya. Di dalam mobil nampak Jenna Nixon tengah meringis keaskitan saat kepalanya membentur kaca depan mobil dan tangan kanannya tetekuk dengan posisi yang aneh.


Bab 7

Dua jam kemudian Laurie sudah ada di rumah sakit Salem Falls dikelilingi oleh Jessica, Joanna, dan Lisa. Raut wajah mereka nampak menunjukan kekhwatiran. Ini adalah kejadian yang akan membuat siapa saja terguncang.

”Apa kau akan kapok main detektif-detektifan?”tanya Jessica menggoda.

”Aku harap ini sudah berakhir, tapi jika ada kasus baru aku akan mulai lagi!” jawab Laurie, sambil tersenyum menahan sakiit, ia mendapat beberapa jahitan akibat tubuhnya terbentur dan bergesekan dengan aspal.

”Kau membuat kami cemas, Laurie!” ujar Lisa. Joanna yang ada di sampingnya hanya bisa mengangguk sambil mengusap air matanya.

”Kami sangat berterima kasih atas apa yang kau lakukan,ujar Lisa.

Laurie tersenyum lemah.

Tadi polisi telah menerangkan bahwa Jenna Nixon telah mengakui kejahatan itu menjelang operasinya. Ia mengatakan, ia membunuh Andrea dan Ellie karena kedua gadis itu telah menggoda suaminya, Andrea adalah teman satu kampus dengan Jenna dan Richard, saat mereka masih kuliah Andrea dan Richard begitu dekat, padahal Richard tengah menjalin hubungan dengannya, sedangkan Ellie, tidak perlu dijelaskan lagi, gadis itu membuat Richard mengejar-ngejarnya dan mengacuhkan istrinya. Intinya semua ini akibat cemburu. Ia menggunakan mitos yang ada agar semua tampak seperti bukan ulah manusia, mulai dari mengambil darah mereka dengan jarum suntik, tidak sulit mendapatkan jarum itu karena ia pernah menjadi seorang dokter. Sedangkan niatnya untuk membunuh Laurie, karena ia mengira gadis itu terlalu banyak tahu, ia menyelidiki kesana kemari seperti polisi.

Lisa dan Joanna saling menguatkan, mereka bersyukur semua telah selesai, semua misteri akhirnya terungkap, semua berkat Laurie.

Jack segera menghubungi istrinya agar untuk bersiap-siap, karena paling tidak dua bulan lagi mereka akan pindah ke White Mansion, Jack mendengar istrinya menjerit tertahan akibat kegirangan.

Di tempat berbeda, agak jauh dari rumah sakit. Di sebuah ladang jagung, Lillian Clausen sedang berdiri memandang ke kejauhan, mulutnya berkomat-kamit mengucapkan kalimat-kalimat aneh. Kemudian ia mengangkat cawan perak berisi darah binatang dan menyebarkannya ke seluruh ladangnya, ia memutari ladang tersebut melalui arah penjuru mata angin, dan menyiramkan darah binatang ke setiap titik, mulutnya masih sibuk berkomat-kamit, ia merapatkan mantelnya agar tidak kedinginan kemudian tangannya menengadah ke langit masih sambil mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak dimengerti siapapun. Ia kembali menatap ke ladang jagungnya. Ia harus melakukan ini agar bisa terus hidup, leluhurnya mengharuskannya melakukan ini, sebagai generasi terakhir ia bangga melakukan ini, agar mereka terus makmur, ini harus diteruskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar