Bab 1
13 November 2008
Dear Diary
It’s a good news, akhirnya Ted Williams menyatakan cintanya padaku, aku sudah bersabar dan menunggu akhirnya dia menjadi milikku, Aku tidak peduli apa kata orang, Ted bilang ia akan berubah, untung saja aku menuruti nasehat Karen dan Sarah, ternyata mereka benar. Malam minggu besok Ted mengajaku kencan. Semoga saja semua berjalan lancar.
Ellie Smith menutup buku hariannya sambil tersenyum sendiri, Saat ini perasaannya sedang berbunga-bunga karena jatuh cinta. Ted Williams, cowok ganteng di kelas Sejarah Perancis telah menyatakan perasaannya pada Ellie. Kejadian bermula saat Ellie sedang makan siang bersama dua temannya Karen White dan Sarah Lee, Ted yang juga sedang berkumpul bersama teman-temannya, tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah Ellie. Pandangan mereka bertemu, awalnya Ellie bersikap acuh, ia menganggap hal itu cuma tatapan sekilas, hari berikutnya mereka kembali bertemu di kantin kampus, kali ini mereka sama-sama sendiri, diawali dengan perkenalan, seminggu kemudian Ted menyatakan perasaannya. Tiga hari sebelum itu sebenarnya Ellie ingin bilang pada Ted lebih dulu, tapi teman-temannya bilang,
“Jadi kau benar menyukai berandal itu?”Kata Karen agak kurang senang.”Ellie, kau tahu kan siapa dia? reputasinya buruk di kalangan perempuan ditambah lagi kelakuannya yang mendekati criminal.”
“Aku tidak peduli apa kata orang tentang Ted! Dengar, semua orang mempunyai sisi buruk dan masa lalu yang kelam, dan aku menganggap hal itu wajar saja. Aku akan maju terus!” kata Ellie dengan tegas. “Dan jangan lupa,he’s hot”
“Dari pada kau sibuk mengejar-ngejar pria seperti itu, kenapa kau tidak mencoba untuk peduli dengan yang lain.”
“Maksudmu….?”
“Denny Arden!bukankah dia tergila-gila padamu sejak SMP dulu.” Ujar Karen.
Mendengar itu Ellie terbahak-bahak kemudian berkata,”Pria aneh itu?no way! well,dia memang baik, dan agak pintar tapi bukankah dia pernah ngompol waktu kelas waktu kelas 6? tapi akan kuceritakan sebuah rahasia, sebenarnya waktu itu dia tidak mengompol. Pada saat jam pelajaran dia tertidur di kelas,kan?aku yang duduk di sampingnya saat itu aku hanya ingin iseng dan tiba-tiba saja aku punya ide jahat, lalu kutuangkan coke ke celananya”.Kemudian tertawa terbahak-bahak lagi. Karen hanya mengangkat bahu, sedangkan Sarah diam membisu.
”Tidak!” kata Ellie lagi. “Aku lebih suka pria yang agak nakal seperti Ted, bukan seperti Denny”.
“Ellie, coba kau pikir sekali lagi! dia, juga pernah mempunyai catatan kriminal,apa tidak ada pria lain di kampus kita!kenapa kau tidak bersaing mendapatkan dosen itu?” ujar Karen
“Dia benar-benar playboy, aku yakin dia sudah tidur dengan separuh mahasiswi di kampus ini!”ujar Sarah. “Pikirkan sekali lagi”.
Ellie menggeleng, tanda bahwa ia tidak mau keputusannya diganggu gugat, ia tahu Ted adalah pria yang senang main wanita, tapi ia yakin ia bisa membuat Ted berubah, sedikit demi sedikit aku akan membuat Ted benar-benar mencintaiku, tekad Ellie dalam hati.
Karen mengangkat bahu, ia menyerah dan merasa percuma menasehati temannya itu.”Baiklah, itu terserah padamu, aku cuma memberi sedikit saran, jangan ikuti kata hatimu, maksudku biarkan dia dulu yang menyatakan perasaanya padamu.”
“Benar!”Timpal Sarah.”Kau tidak perlu aktif terlebih dulu, ikuti saja permainannya, jangan biarkan dirimu mengemis pada laki-laki seolah kau membutuhkan mereka.”
“Aku tidak mengemis, kata Ellie mencoba membantah.”Aku memang menyukainya, apa salah jika aku bilang aku suka padanya!”
“Ellie, cobalah bersikap seperti para puteri bangsawan abad 19, mereka akan bersikap sabar bahkan sedikit angkuh berusaha menahan perasaan mereka, walaupun kita tahu mereka terlalu bernafsu untuk melakukan itu”kata Karen berkomentar.
Ellie memutar bola matanya, sejarah abad 19 yang mereka pelajari telah mempengaruhi mereka hingga kehidupan nyata,pikir Ellie.”Girls, pertama aku bukan puteri bangsawan, kedua ini bukan abad 19! apa salahnya memulai perubahan”
Bukan karena teguh dengan pendiriannya, tapi lebih karena ingin mencoba apa yang dianjurkan teman-temannya, akhirnya Ellie mencoba menahan diri dan mebiarkan Ted yang melakukannya, dan itu berhasil.
Siang itu Ellie dan Ted berencana pergi ke Coffe Corner, sebuah kedai kopi terkenal di kalangan mahasiswa.Ted yang berbeda kelas dengan Ellie menunggu Ellie hingga jam kuliahnya selesai.Sambil menunggu Ted mengirimkan pesan-pesan pendek bernada romantis melalui ponselnya kepada Ellie. Didalam kelas yang berisik di mana dosen dan mahasiswa sibuk dengan urusannya masing-masing, sementara dosen berceloteh mengenai tata kenegaraan, para mahasiswanya bagaikan di pasar, beberapa kelompok wanita bergosip, pria-pria bercerita tentang pertandingan football semalam, ada juga yang membicarakan vieo porno terbaru Paris Hilton yang beredar di internet, sedangkan dua pasang yang lain sedang asyik bermesraan di pojok kelas.Ellie Smith tidak mau ketinggalan, ia saling berkirim pesan cinta dengan Ted Williams yang sedang menunggunya di luar kelas.
Begitu kelas usai mereka berdua berjalan keluar kampus sambil bergandengan tangan seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Beberapa pasang mata yang melihat mereka ada yang bersiul,para gadis bertampang sinis ada tapi lebih banyak yang menggeleng kasihan.Dia belum tau saja bajingan itu, pikir mereka yang pernah berpacaran dengan Ted.
“Aku senang kau mau menerimaku, Ellie.Aku yakin kau mendengar hal-hal buruk tentangku.”ujar Ted saat mereka menyusuri Ocean Park.
“Aku tidak peduli apa kata orang, aku yang beruntung bisa mendapatkanmu, aku masih merasa ini seperti mimpi”
“Tapi kau tidak bermimpi.” Kata Ted, genggamannya semakin erat, dan membuat Ellie semakin sadar kalau ia memang tidak sedang bermimpi.
Laurie Anderson tengah merapikan buku-buku kuliahnya yang berantakan dalam locker dan menyusunnya sampai rapi. Mata kuliah terakhir tentang Sejarah Perancis membuatnya sakit kepala. Mrs.Jean Marple, sang dosen menyuruh para mahasiswanya membuat makalah tentang kebudayaan Perancis abad 19, mulai dari masyarakatnya hingga kehidupan kerajaan terutama tentang mitos para puter-puteri yang mempunyai harga diri tinggi, dengan menolak menyatakan cinta lebih dulu, dengan tujuan tidak dipandang rendah oleh para kaum pria. Pantas saja para puteri tersebut bayak yang tidak laku, kata Lurie dalam hati sambil membanting pintu lockernya lalu begegas keluar kampus. Sepanjang jalan ia mendengar beberapa mahasiswi bergosip, apalagi kalau bukan tentang gossip of the month, yaitu tentang Prof.Richard Nixon, dosen paling tampan di X University. Laurie yang juga mengagumi dosen tersbut hanya mencibir dalam hati, apa mereka tidak ada hal lain untuk dibicarakan. Sambil terus melangkah Laurie teringat saat Prof.Richard Nixon datang pertama kali ke kampusnya, semua orang mentap kearahnya terutama para mahasiswi dan dosen wanita yang bagaikan singa betina yang melihat mangsa. Walaupun mereka sudah tahu kalau pria itu sudah beristri, namun masih banyak saja yang berharap terutama mahasiswa baru. Mereka sering mengirimi dosen itu amplop yang berisi surat dengan ajakan untuk bercinta, bahkan ada yang mengirim amplop berisi kondom.
Sebuah suara membuyarkan lamunan Laurie saat ia tengah menyusuri jalan depan kampus.”Apa kau baik-baik saja? kau terlihat buruk di kelas tadi.”kata seorang gadis yang tiba-tiba muncul di sampingnya.Jessica Parker yang ternyata menyenggol pundaknya.
“Aku cuma sedikit pusing, penjelasan panjang lebar dari Mrs.Marple tadi membuatku mabuk darat, aku mau ke Coffe Corner, mungkin secangkir kopi bias membuatku hidup lagi, kau ikut?”
Jessica mengangguk,”aku baru saja mau mengajakmu ke sana, bosan sekali di kampus yang penuh dengan mahasiswi yang bergosip tentang dosen tampan”
Laurie menatap heran ke arah sahabatnya,berusaha mempercayai apa yang baru saja didengarnya.”Jadi kau tidak suka dengan tipe pria seperti itu?”
“Well, harus kuakui aku tertarik, hanya saja aku tidak suka dengan pria yang jadi bahan rebutan, bukankah dia sudah menikah?”
“Sejak kapan itu menghalangimu?”Laurie buru-buru menyesali ucapannya dan segera minta maf.”Oh…God! I,m so sorry, Jess! aku tidak bermaksud……”suaranya mendadak terputus.
“No,it,s ok! Kau tidak perlu minta maaf! Aku sudah terlalu kebal dengan sindiran seperti itu”. kata Jessica tersenyum pelan.
Menit berikutnya hening tanpa suara. Dalam hati Laurie sangat menyesal apa yang baru saja diucapakannya, jelas sekali Jessica sangat tersinggung atas perkataan Laurie. Enam bulan yang lalu Jessica pernah menjalin hubungan dengan pria beristri, ia seorang dokter setempat, awalnya Jessica tidak tahu, saat pria itu memberi tahu tentang kehidupannya bahwa ia sudah beristri, Jessica tidak peduli, bahkan mereka semakin erat dan pertemuan mereka semakin intens, mereka begitu menikmati hubungan mereka, Jessica pun amat menikmati perannya sebagai perebut suami orang, namun seiring mereka makin mesra, gossip tentang mahasiswi yang berhubungan dengan seorang dokter beristri menyebar di kalangan kampus. Akhirnya istri dokter tersebut menemui Jessica di kampus, awalnya mereka bisa mengatasi keadaan dan berbincang dengan kepala dingin, tapi situasi berubah, Laurie masih bisa mengigat hari itu.
“Kau pikir siapa dirimu? dasar pelacur!”teriak si istri dokter.
“Kenapa anda tidak bertanya pada diri anda sendiri, kenapa suami anda sampai mencari kepuasan di tempat lain, Kevin bilang dia tidak mencintai anda, menurutnya untuk apa memelihara istri aneh seperti anda!”
Laurie masih bisa mengingat setelahnya, karena kejadian berikutnya adalah yang menjadi berita di koran kampus-kampus, bahkan sampai masuk di acara-acara gosip stasiun tv lokal. Saat itu biasa saja terjadi gilrfight, kalau saja security kampus tidak memisahkan, Laurie yakin kedua wanita itu bisa saling bunuh.Setelah hari itu Jessica bercerita pada Laurie bahwa mereka baru saja putus. “Istriku adalah segalanya bagiku, anehnya dia juga bilang hal yang sama saat bersamaku”kata Jessica waktu itu.
“Jess, aku benar-benar minta maaf!”kata Laurie memecah keheningan,”kau tahu aku tidak bermaksud……!”
“Laurie, hentikan! i’m ok! aku baik-baik saja! bagaimana sebagai gantinya kau traktir aku secangkir kopi dan beberapa potong coklat cake”kata Jessica kemudian saat memasuki Coffe Corner,mendengar hal itu membuat Laurie mendesah lega.
Laurie memilih tempat di pojok ruangan dekat jendela dengan tujuan bisa melihat apa yang ia ingin lihat, orang yang sedang lalu lalang di luar café maupun pengunjung yang ada di dalamnya.
Jessica sedang menggigit cake kedua saat matanya tertuju pada sepasang kekasih yang sedang berpegangan mesra di ujung ruangan yang lain. ” Lihat siapa yang ada di sana”katanya kemudian.
Laurie menoleh kebelakang, mantan kekasihnya Ted Williams dan salah satu gadis popular di kampus, Ellie Smith, keduanya tampak sedang kasmaran.”Ia juga mengajakku kesini saat kencan pertama kali, persis di meja dan kursi yang sama.” Katanya pelan pada Jessica.
Prof.Richard Nixon sudah mengajar di X University sebagai dosen Sejarah Kebudayaan Kuno hampir 2 tahun, ia tahu banyak tentang peradaban suku Maya, Inca serta suku-suku dari seluruh dunia bahkan yang telah punah, pembawaannya yang ramah ditambah wajah yang tampan, rambut hitam dan kulit kecoklatan, Richard Nixon jelas merupakan idaman para mahasiswi,banyak di antara mereka yang bilang Richard lebih pantas tampil di cover Men’s Heatlh, tren bahwa wanita muda lebih menyukai pria dewasa jelas bukan merupakan fenomena baru, tapi memang sedang terjadi semacam tren, itu pula yang terjadi di beberapa kampus di New Hampshire. Tidak jarang mahasiswinya bertindak nekad mulai dari meminta nomor ponsel hingga yang mengajaknya bercinta di kelas yang sepi. Richard menanggapi hal itu semua dengan sikap normal dan menganggap sebuah proses pendewasaan mahasiswinya, karena kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa-mahasiswa baru yang baru lulus sekolah. Pesan-pesan romantis, surat-surat cinta yang diterimanya ia tanggapi dengan sikap dingin dengan sedikit senyum, sehingga semakin Richard bersikap seperti itu justru menambah keinginan para penggemarnya ingin menyerahkan segalanya.
Saat ini Richard tengah memeriksa tugas paper yang dibuat mahasiswanya mengenai mitos bahwa di Salem Falls dulu merupakan perkampungan penyihir. Richard amat tertarik dengan segala sesuatu yang berbau voodoo, hoodoo, ritual-ritual kegelapan dan sejenisnya. Ia sudah meneliti mitos yang ada di Salem Falls sejak ia mahasiswa dulu hingga profesinya sebagai dosen sekarang, bayak yang tidak tahu kalau Ricard terobsesi dengan hal-hal seperti itu, terutama para mahasiswanya, mereka cuma tahu kalau Richard adalah dosen yang tampan yang mengajar Sejarah Kebudayaan Kuno.Dan hal itulah satu-satunya yang ia sembunyikan dari siapapun termasuk istrinya, Jenna Nixon.
Di tempat lain saat ini Jenna berniat menghubungi suaminya yang tengah mengajar, baru saja mengangkat gagang telepon ia jadi teringat kejadian yang membuatnya takut pada suaminya pertama kali. Saat itu Jenna menelepon untuk mengingatkan Richard tentang undangan di tetangga depan rumah.
“Kau hanya meneleponku hanya untuk itu sayang, kau kan tahu aku tidak suka diganggu saat bekerja, biar kau yang menghubungimu!”kata Richard pelan dengan nada lembut, tapi Jenna bisa merasakan berbeda, baginya itu terdengar seperti “Bangsat!untuk apa kau telepon aku!”.Mengingat kejadian itu, dengan pelan Jenna kembali meletakan gagang telepon nyaris tanpa suara. Tapi kemudian telepon berdering.
“Sayang, aku hanya mau bilang, malam ini kau bisa menyiapkan makan malam untukku, tapi sepertinya aku akan pulang larut, sepertinya aku akan mengajar kuliah malam!”“Aku tahu,kata Jenna lembut, Kemudian mendengar suara teleon ditutup di ujung sana, aku selalu tahu, katanya dalam hati.
14 November 2008
Dear Diary
Thank….God1It’s a wonderful day! Aku harap Ted benar-benar mencintaiku, aku tidak peduli siapapun yang bilang tentang kehidupannya,aku sungguh-sungguh mencintainya,semoga kami akan terus bersama……♥♥!
Ellie menempelkan foto dirinya dan Ted di bawah halaman. Foto tersebut mereka ambil setelah keluar dari Coffe Corner tadi siang, setelah agak lama memendangi foto mereka berdua sekali lagi, Ellie mengganti T-shirt dan jeans yang dipakainya dengan piyama, lalu keluar kamar dan bergabung dengan ibunya yang sedang duduk di sofa panjang sambil menonton berita malam.
“Ibu belum tidur?”tanya Ellie pelan.
Mrs. Joanna Smith menggeleng sambil terus menatap kosong ke arah televisi. Ellie masih bisa merasakan kesedihan yang dirasakan ibunya.Andrew Smith, ayah Ellie meninggal dua tahun lalu, hari ini adalah hari kematiannya.Andrew yang juga dosen di mana Ellie kuliah tewas dibunuh oleh seseorang tak dikenal saat perjalanan pulang ke rumah.Ia ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan, wajahnya dipukuli hingga membabi buta. Sampai sekarang kasus tersebut masih menemui jalan buntu,selama itu pula Joanna masih belum bisa menerima kematian suaminya. Diusia yang 46 tahun penampilan Joanna tampak lebih tua dari kelihatannya.
Saat melihat ibunya seperti itu, Ellie naik ke atas dan mengambil selimut tebal di dalam lemari ibunya.Ellie masih bisa mencium aroma pewangi pada selimut itu,ia jadi ingat ayahnya bilang kalau selimut tersebut adalah selimut yang dibeli berdua bersama ibunya saat baru berkeluarga di pasar diskon.” Lebih baik ibu memakai ini, kata Ellie lembut.”Apa ibu mau kubuatkan teh atau sesuatu untuk dimakan?”.Joanna Smith menggeleng lagi, matanya masih terus menatap ke arah televisi.Ellie tahu ia mendapat jawaban yang sama, kemudian segera naik ke atas menuju kamarnya. Syukurlah sekarang aku sudah punya Ted, katanya dalam hati, aku masih punya kebahagiaan diluar sana.Ellie berusaha menahan air matanya sampai matanya terpejam dan ia bermimpi Ted membawanya pergi jauh.
15 November 2008
Robert Clausen dan Liliian istrinya adalah sepasang suami istri berusia awal 70-an. Mereka berdua adalah warga asli Salem Falls, tidak seperti orang lain yang pindah dari New York dan mencari ketenangan di kota kecil. Dengan rumah yang luas untuk berdua dan lahan yang cukup luas juga, Robert mengelola ladang jagung dan sayur mayur serta beberapa buah-buahan untuk dijual di pasar swalayan Salem Falls dan kota-kota sekitar. Dengan dibantu belasan orang pekerja, ladang jagung dan kebun sayur mereka menuai panen sukses sepanjang tahun, namun tahun ini adalah tahun yang buruk untuk panen. Hama tikus beberapa bulan lalu ditambah musim dingin yang buruk membuat panen mereka terancam gagaL, ditambah gejala penyakit Alzheimer yang kemungkinan menyerang Robert, membuat tahun itu adalah tahun terburuk bagi mereka.
Robert menatap keluar jendela ke arah ladang jagungnya.”Kurasa panen kita tahun ini akan benar-benar buruk, katanya pada Lillian yang sedang merajut di sofa panjang yang nyaman.
“Sudahlah, Robert!kata Lillian.”Berdoalah semoga semua baik-baik aja, aku harap itu hanya terjadi tahun ini. Kau tidak perlu khawatir, kita masih punya cukup uang untuk membayar para pegawai dan membiayai hidup kita untuk waktu yang sangat lama”
“Kau percaya mitos tentang Salem Falls?”tanya Robert tiba-tiba.
“Apa maksudmu?”Lillian balik bertanya.
“Ada mitos mengatakan, ratusan tahun lalu para penyihir tinggal di kota ini, mereka selalu mengadakan semacam ritual ntuk kemakmuran kota, caranya mencari darah seorang gadis dan menyiramkannya di empat penjuru mata angin, tentu saja gadis tersebut akan mati”
“Ya,Tuhan jangan bilang kau percaya mengenai hal itu, itu cuma takhayul yang berkembang di masyarakat, aku tahu banyak orang yang membicaraknnya dan menghubungkannya dengan kematian seorang gadis tujuh tahun yang lalu, tapi itu murni cuma takhayul”.
“Aku tidak bilang aku percaya, hanya saja berpikir cara kematian gadis itu sama, darahnya bagikan tersedot habis,dan kau tahu, sejak itu panen kita adalah yang paling berlimpah sepanjang kita tinggal di kota ini, aku ingin tahu apa mungkin salah satu keturunan penyihir mengulang lagi ritual leluhurnya ratusan tahun lalu?” kata Robert sambil mengangkat bahu.
Lillian memandang sedih ke arah suaminya, ia merasa penyakitnya akan bertambah parah disertai ketakutannya akan kegagalan panen tahun ini.
“Kalian mungkin telah mendengar mitos tentang Salem Falls yang dulunya adalah perkampungan para penyihir!”kata Prof.Richard Nixon di depan kelas. “Tapi itu bukan sekedar mitos atau takhayul, ada bukti ilmiah yang saat ini telah ditemukan dan sedang diteliti di meseum. Bukti-bukti yang ditemukan antara lain kitab-kitab kuno, patung-patung berhala, cawan-cawan perak yang diukir menyerupai cakar burung buas dan beberapa belati, tentang ritual itu kegelapan pun sedang diteliti” katanya mengakhiri.
Laurie menoleh ke sekellingnya, semua mahasiswa amat tertarik dengan hal-hal mistis seperti dirinya, tapi tidak dengan gadis-gadis lain dikelasnya, selain sedang memandangi Richard Nixon dengan pandangan lapar, Laurie yakin para wanita sekarang sedang membayangkan Prof.Nixon sedang mengajar tanpa busana di depan kelas. Laurie bisa melihat seorang wanita gemuk di pojok kelas tampak baru mengelap air liurnya, entah fantasi apa yang baru saja dibayangkannya
“Apakah hilangnya gadis tujuh tahin lalu ada hubungannya dengan aktivitas para penyihir, apa menurut anda ritual ratusan tahun lalu kembali terulang?” tanya seorang mahasiswa di belakang Lurie.
“Tentu saja tidak, itu cuma kasus penculikan biasa. Semua hal yang berkaitan dengan penyihir sudah tidak ada sejak tiga ratus tahun lalu, ada informasi sejarah menyebutkan mereka semua dibakar hidup-hidup oleh warga kota, tapi ada juga yang berpendapat mereka pindah ke suatu tempat yang jauh kemudian membentuk koloni di tempat tersebut, jadi kemungkinan tidak ada keturunan atau kerabat mereka satupun setidaknya hingga tahun 1790-an di Salem Falls”
“Bagaimana dengan kasus pembunuhan Andrew Smith?” teriak seorang mahasiswa di ujung kelas.
Semua mata serentak tertuju pada Ellie Smith yang tengah duduk di depan kelas, Ellie bisa merasakannya, tatapan-tatapan ingin tahu serta rasa penasaran mereka tentang apa benar hal tersebut ada hubungannya, hal tersebut membuat Ellie ingin segera meninggalkan ruangan itu secepatnya.Prof.Nixon sejenak menatap tajam ke arah Ellie Smith yang sedang tertunduk, kemudian ia berkata.”Kasus tersebut tidak ada hubungannya sama sekali, titik! kalau kau ingin tahu, silahkan tanya kepada pihak kepilisian. Baiklah, kuliah selesai sampai di sini,bagi yang belum mengumpulkan paper,harap segera kumpulkan pkl.15.00 hari ini dan tidak ada toleransi.”
Saat semua mahasiswa semua beranjak keluar kelas, Ricard memanggil Ellie untuk bicara tentang hal tadi.”Aku harap,apa yang kita bahas tadi tidak membangkitkan kesedihanmu, Ellie.”
“Saya baik-baik saja, Mr.Nixon!” kata Ellie ketus.”Ayah saya sudah menjadi pembicaraan sejak dua tahun, saya sudah terbiasa.Terima kasih.”Ellie segera beranjak dari tempat duduk.
“Ellie, tunggu!”panggil Richard Nixon.”Kau bisa cerita denganku tentang apapun.”
Ellie hanya diam tanpa memberi reaksi apapun kemudian berjalan keluar meninggalkan Richard Nixon yang terus memandangnya dari belakang.
Sepanjang jalan koridor kelas, Ellie berusaha menahan rasa kesal, malu serta kesedihannnya. Penjelasan mengenai Sejarah Kebudayaan kuno tadi membuat perasaannya bercxampur aduk. Sudah dua tahun sejak kematiannya ayah Ellie, Andrew Smith tetap di perbincangkan serta dihubungkan dengan hilangnya gadis tujuh tahun lalu.Bagi warga Salem Falls yang merupakan kota kecil, amat jarang terjadi kasus kriminal seperti pembunuhan sepanjang lima puluh tahun terakhir, tidak heran jika ada kasus seperti itu maka akan menjadi headline di setiap media.
Ellie mendengar suara di kejauhan yang memanggilnya. Ia menoleh, terlihat Sarah Lee dan Karen White yang sedang berlari-lari ke arahnya.
“Kau tidak lupa,kan dengan pesta ulang tahunku besok malam?”tanya Sarah saat mendekat.
”Tentu saja aku tidak lupa, aku pasti akan datang! kalian sahabatku, aku tidak akan melewatkan moment-moment bahagia kita bertiga”
”Well, ajak juga pangeran barumu!timpal Karen.”Kau tahu, Sarah mengundang seluruh mahasiswa yang kita kenal ke pestanya, akan ada banyak makanan dan minuman, musik, sedikit sex, kejadian-kejadian mengejutkan bahkan kita tengah menyiapkan tamu yang menghebohkan.”
Ellie bisa melihat senyum licik dari wajah teman-temannya.Ia bisa menebak siapa tamu istimewanya itu, setiap tahun ultah Karen dan Sarah selalu heboh dsan meriah dengan kejutan-kejutan mulai dari kostum sampai tamu-tamu yang diundang. Karen pernah mengundang Marron 5, hanya karena sang drumer adalah sepupunya, bisa ditebak pesta itu berubah menjadi konser kecil semalam suntuk, sampai sekarang banyak yang menantikan Karen dan Sarah membuat pesta lagi.
”Aku dan Ted pasti akan datang, aku baru saja mau mencarinya.”
Ellie mencari Ted di area kantin hingga keluar sekitar kampus, namun ia belum bisa menemukan Ted, melihat teman-temannya yang sedang bekumpul di pelataran parkir, Ellie bertanya pada mereka, tapi mereka juga tidak tahu.Ia terus mencari hingga sampai kebelakang kampus yang merupakan taman dengan pohon-pohon rindang,dan tentu saja merupakan tempat pavorit pasangan-pasangan mahasiswa yang ingin berduaan. Kenapa aku pergi kemari, tanya Ellie dalam hati. Ted tidak mungkin ada kesini.
Baru saja hendak berbalik arah ingin meninggalkan tempat itu, Ellie mendengar suara pria yang sedang dicarinya.Ia melihat sekeliling dan mencari asal suara tersebut. Kemudian tiba-tiba Ellie melihat Ted, tapi jelas Ted tidak sendiri. Ellie berusaha mempercayai penglihatannnya,tapi yang dilihatnya jelas Ted dengan seorang gadis sedang bermesraan, ia mengenali gadis itu, Leona Adams si pelacur kampus. Tubuh gadis itu bersandar pada sebatang pohon maple, sedangkan Ted tengah melumat bibirnya.
Ellie berusaha menahan tubuhnya yang hendak jatuh, air matanya sudah mengalir lebih dulu, kesal yang dirasakannya sejak di kelas tadi mendadak berubah menjadi amarah yang siap meledak kapan saja.Ditengah kegalauannya, Ellie memutuskan angkat kaki dari tempat yang menjijikan itu.Ia berusaha bersikap normal dan mengusap air matanya sambil berjalan di antara pasangan-pasangan mahasiswa yang melihat ke arahnya.
Sementara itu di tempat berbeda, Jenna Nixon tengah asyik menyiapkan bahan untuk makan malam nanti, suaminya baru saja menelepon bahwa hari ini akan pulang lebih awal.Ia mengatakan sudah tidak ada lagi pekerjaan di universitas yang belum selesai,karena besok hari libur Jenna tengah merencanakan makan malam romantis yang sudah lama di idamkannya.
Jenna teringat saat pertama bertemu Richard, saat itu ia dan Richard adalah mahasiswa di kelas yang sama, mereka sempat berpacaran, tapi putus. Setelah lulus mereka menjalani kehidupan masing-masing. Mereka bertemu kembali di pameran barang antik di London akhir musim panas tiga tahun lalu, pertemuan yang tidak terduga itu membuat mereka ingin mengenal lebih dekat dan akhirnya menjalin hubungan.Richard melamarnya saat ia baru saja diterima menjadi dosen di Lexington Academy, sebuah kampus untuk orang dengan ekonomi pas pasan, sedangkan Jenna berhenti menjadi dokter di rumah sakit lokal. Masa-masa pacaran kedua serta awal pernikahan mereka amat indah. Jenna selalu mendapat pesan-pesan romantis dan bunga mawar setiap hari. Saat Richard pindah mengajar di X University 2 tahun lalu, keadaan mulai berubah. Dari tempat kursua murahan, sekarang ia harus mengajar yang kebanyakan mahasiswi-mahasiswi yang tergila-gila padanya. Richard juga berubah lebih ketus dan agak pemarah, ia merasa indahnya masa pacaran sekarang berubah menjadi neraka dunia saat berumah tangga, walaupun begitu kadang Jenna masih mendapat mawar di akhir pekan.Sebenarnya Jenna tidak terlalu peduli dengan sikap suaminya yang kadang berubah-ubah, tapi lebih karena gangguan telepon-telepon misterius, kadang terdengar suara cekikikan seorang wanita yang Jenna yakin adalah salah satu penggemar suaminya. Saat Jenna bertanya tentang hal tersebut, suaminya cuma menjawab,”kau tetap wanita di hatiku”,semoga saja begitu, kata Jenna dalam hati. Tapi ajakan Richard tadi siang untuk makan malam membuat ia berniat mengubah segala macam prasangka negatif tentang suaminya itu.
Sesuai dengan keinginannya,malam itu Richard bersikap amat romantis,sebelum makan mereka berdansa sekitar lima belas menit, disusul dengan hadiah kecil dari Richard. Mereka berdua makan malam di taman belakang rumah dengan diterangi cahaya bulan, walaupun udara musim dingin mulai datang dan suhu mulai turun drastis, tidak membuat Jenna membatalkan keinginannya makan malam di taman.Jenna membuat daging asap, sup tomat, salad dan disajikan dengan sebotol sampanye.
Jenna mulai menyesap sampanyenya saat bekomentar tentang masakan yang ia buat.”kau memang pandai memasak,kata Richard.”aku tidak salah memilihmu,aku akan sangat menyesal jika selalu pulang telat dan tidak makan seperti ini setiapa hari bersamamu”
”Bukannya kau memang sering pulang telat!”kata Jenna terus terang.”Dua hari kemarin aku membuat resep baru yang baru saja kudapat”
”Oh,ya!sayang sekali aku sudah lama menantikan makan malam seperti ini!”
Bullshit,kata Jenna dalam hati, kemana saja kau!.”Kalau begitu mulai besok kau harus pulang lebih awaln setiap hari, kebetulan akau baru mendapat resep baru dari tetangga sebelah”
Richard berpikir sebentar sambil mengunyah salad.”Sepertinya tidak bisa,sayang.Salah satu rekanku sesama dosen memintaku menggantikannya mengajar untuk kelas malam, sepertinya agak sulit kutolak sebab aku berutang budi padanya”
”Kalau begitu, kau baru saja melewatkan satu resep lagi,”kata Jenna berusaha agar suaranya tetap normal.”Tapi apa bisa jika lusa kau pulang cepat?”tanya Jenna
”Akan kucoba!Richard mengangguk.
Sebaiknya begitu, sayang!kata Jenna dalam hati. Matanya menatap curiga pada suaminya.
Lillian Clausen tengah berusaha menenangkan suaminya yang masih saja gusar akibat ancaman gagal panen mereka. Robert bilang kepada istrinya bahwa ini akan menjadi panen yang terburuk buat mereka, Robert sudah menelepon BMKG setempat tadi siang,dan mendapat jawaban bahwa musim dingin tahun ini memang akan benar-benar buruk. Kedua petani itu mendapat saran agar memanen hasil ladang dan kebun mereka lebih awal, karena akan terjadi peralihan musim yang tiba-tiba dan itu akan mendatangkan banyak bibit penyakit termasuk untuk tanaman.
”Sebaiknya kita melakukannya sayang,sebelum panen kita rusak apalagi tomat-tomat, serta buncis dan kentang sudah siap kita panen, aku khawatir akan cepat membusuk seperti beberapa tahun lalu.”
”Aku juga sedang berpikir seperti itu Lillian!”kata Robert.”Ssemoga saja kita masih bisa menyelamatkannya,selain itu aku juga sedang berpikir apa mungkin sebaiknya kita pindah ke White Mansion dan menjual ladang serta kebun kita,kita bisa menghabiskan masa tua kita di tempat tersebut,selain itu ada yang mengurus kita.”
Lillian menatap suaminya, sudah agak lama Robert menginginkan untuk pindah ke tempat itu, White Mansion adalah sebuah tempat perawatan para panti manula,namun tempat tersebut ibarat hotel bintang lima, dengan fasilitas dan pelayanan yang diutamakan, tempat itu benar-benar memanjakan para manula agar mereka merasa seperti di rumah sendiri.Lillian berulang kali menunda ide suaminya dengan alasan kasihan dengan para pegawai, ”mereka semua amat butuh pekerjaan ini dan mereka memerlukan kita, kita tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja dengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab”,katanya waktu itu.Tapi mengingat usia mereka yang sudah waktunya istirahat Lillian mengangguk pada suaminya.”Kurasa itu ide yang bagus”katanya kemudian.
”Tadi aku mendengar beberapa pegawai membicarakan tentang ritual kegelapan,mereka bilang kalau sekarang sudah saatnya memberi persembahan kepada dewa agar Salem Falls terhindar dari hal-hal yang buruk.”kata Robert tiba-tiba.
”Astaga Robert,kenapa kau masih mempercayai apa kata orang,itu cuma bagian dari legenda kota! Mereka cuma menghubungkan segala hal yang terjadi di kota ini dengan mitos tersebut seolah ini semua benar-benar nyata.”
”Tapi bagaimana jika ritual itu benar-benar ada!apa mungkin jika ada orang yang melakukannya ritual itu, musim dingin kali ini kita akan panen seperti biasa”
Lillian menutup mulutnya dengan tangan, seolah tidak mempercayai apa yang abru saja ia dengar dari mulut suaminya. Apa sebaiknya kami segera pindah ke White Mansion?tanya Lillian dalam hati, agar Robert tidak merasa terbebani dengan panennya lagi, aku tahu kami sudah tua, kadang apa yang kami katakan memang tidak masuk akal,tapai apa yang dikatakan Robert barusan benar-benar di luar pikiran kami.
15 November 2008
Dear Diary
Aku tidak tahu harus mulai dari mana, teman-temanku benar tentang Ted, ia memang orang yang brengsek, kenapa aku bisa jatuh cinta pada pria seperti itu?kenapa aku bisa benar-benar tertipu, sejauh ini aku yang mempermainkan para playboy! Lalu kenapa kali ini aku begitu bodoh?
Ellie memandang foto dirinya dan Ted di buku hariannya sambil meneteskan air mata, rasa sedih, terpukul kini berubah menjadi benci tang mendalam, ia jadi teringat kata Karen dan Sarah agar menjauhi Ted. Tapai Ted begitu tulus waktu itu,kenang Ellie.
”Semua pria akan sepert itu saat pertama kali” kata Sarah, ”Mereka akan menunjukan sikap semanis seperti kucing yang minta ikan saat menyatakan cinta padamu, tapi saat pria itu memilikimu, ia akan menunjukan topeng yang sesungguhnya.
”Lebih baik kau seperti kami,Ellie!Karen menimpali,kita hanya bersenang-senang dengan mereka dan kau bisa mengendalikan mereka.”
Suara Karen dan Sarah terus terngiang-ngiang dalam otak Ellie.Ia berusaha mengenyahkan suara-suara tersebut dan kembali memandangi foto Ted, kali ini dengan tampang sinis dan ketus, kemudian ia menuliskan kata ”FUCK U!!!” di atas foto Ted yang mereka buat berdua kemarin, lalu merobek foto itu menjadi serpihan yang kecil-kecil.
Ellie kemudian berjalan keluar kamar menuju kamar ibunya. Saat ia tiba di depan pintu kamar, ia membuka sedikit dan mengintip ke dalam, dilihatnya ibunya tengah tidur meringkuk di balik selimut, Ellie bisa mendengar suara dengkuran ibunya yang damai dan pelan, kemudian dengan pelan juga menutup kembali kamar ibunya kembali, lau ia menuju kamarnya sendiri dan matanya pun mulai terpejam sebelum kepalanya menyentuh bantal.
Bab 2
16 November 2008
Lacey Hilmer sudah mencari kaleng bekas selama 15 tahun, kehidupan yang semakin keras memaksanya bangun lebih pagi dibanding dengan warga Salem Falls yang lain.Diusia yang menginjak 62 tahun, Lacey masih harus berkutat di tempat pembuangan sampah kota, apalagi musim dingin yang sudah mulai datang, namun jika hari ini ia tidak mendapat uang, maka ia juga tidak akan makan malam.
”Kenapa aku masih harus melakukan hal menjijikan seperti ini,”katanya pelan.”Ketika semua orang seumurku sedang menikmati bubur gandum panas di depan televisi, aku malah harus mencari kaleng.”
Dulu keluarga Hilmer sebenarnya bisa dibilang berkecukupan, mereka mempunyai riumah yang tidak terlalu luas, namun sangat nyaman, tapi semua itu berubah saat putera pertamanya Danny Hilmer Jr tewas dalam tabrak lari, butuh waktu lama bagi Lacey untuk menyadari bahwa anak pertamanya telah pergi. Danny anak yang baik dan pendiam, selalu patuh pada orang tuanya.Danny yang malang,katanya dalam hati.Sementara adiknya Wally Hilmer pegi entah kemana ,ia bilang pada Lacey ingin mencari jati diri setelah lulus High School, dasar anak bodoh! kenapa semua anak muda bicara seperti itu saat baru lulus sekolah!.tapi Lacey tahu sebenarnya Wally pergi dari rumah lebih karena malu karena kehidupan mereka, Lacey masih ingat saat pulang sekolah Wally berkata,”Kenapa ibu tidak mencari pekerjaan lain saja, ibu tahu!teman-temanku selalu mengejekku, mereka selalu memberiku kaleng soft drink bekas mereka minum sambil berkata ’salam untuk ibumu’.”Lacey jadi sedih dan agak marah mengingat hari itu, namun sebagai ibu ia selalu berdoa selalu berdoa anaknya akan baik-baik saja, dan masih berharap Wally datang menemuinya. Sementara suaminya Danny Hilmer,Sr sudah lebih dulu pergi entah kemana karena ketahuan berselingkuh dengan pelacur muda, ”semoga mereka berdua membusuk di neraka”, umpatnya pelan. Sementara Lacey terus mengumpat di tengah udara dingin, ia tidak menyadari kalau ia baru saja melewati kerangka tulang tangan manusia yang mencuat dari dalam tanah.
to be continued.......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar