Hari itu Lacey Hilmer masih saja kedatangan dua orang polisi, ia sudah bosan menjelaskan kepada mereka semua bahwa ia tidak melihat siapaun hari itu selain beberapa temannya yang juga pemulung, sama seperti dirinya. Tapi polisi-polisi itu masih tetap saja datang dan menanyakan hal yang sama.
”Apa kalian mengira aku menyembunyikan sesuatu?”tanya Lacey kesal. ”Aku bukan orang bodoh, hingga mau berurusan dengan polisi. Masalahku sendiri sudah rumit, aku jadi terlambat ke tempat pembuangan sampah pada pagi hari, sore harinya saat aku baru saja pulang dan mau istirahat, kalian datang lagi dan menanyakan hal yang sama.”
”Kami hanya mau meminta kembali keterangan anda, Ma’am. Mungkin ada yang anda lewatkan, atau barangkali anda sudah ingat sesuatu dan mau bercerita kepada kami”. Kata polisi itu dengan sabar.
”Sudah kukakatakan ribuan kali pada kalian, saat aku baru saja datang. Aku tdak bertemu siapapun kecuali mayat itu. Ya, Tuhan semoga ia tenang di alam sana. Sekarang kalian pergilah, aku mau memasak makan malam, tapi aku tidak akan mengundang kalian masuk karena makan malamku nanti tidak akan cukup.”
”Baiklah, kami akan pergi.Tapi jika anda ingat atau tahu sesuatu, harap tidak mengatakannya pada siapapun kecuali pada kepolisian. Terima kasih, kalau begitu kami permisi dan mungkin ini bisa membantu anda untuk bisa lebih menikmati makan malam anda” kata polisi yang satunya sambil menyerahkan bungkusan plastik pada Lacey.
Lacey bisa melihat isinya dari luar, beberapa potong roti dan sekaleng daging ham dan sekaleng kacang polong dan buncis. Lumayan untuk sarapan besok pagi, pikir Lacey., ia menyadari sesuatu dan otaknya segera berputar cepat. Tapi.... mungin besok aku bisa mendapat lebih. ”Tunggu dulu!”panggil Lacey kepada polisi-polisi yang sudah beberapa langkah meninggalkannya. ”Sepertinya aku memang melihat seseorang. Seorang wanita, kurasa!entahlah, tidak terlalu jelas karena ia memakai mantel tebal hingga menutup kepalanya, aku tidak tehu apa yang ia lakukan di tempat pembuangan sampah, tapi untuk apa orang kaya ke tempat seperti itu”
Kedua polisi itu saling berpandangan. ”Orang kaya?” tanya polisi yang lebih kurus.
”Tentu saja, mantelnya pasti seharga ribuan dollar, aku pasti sudah membeli rumah dari pada membeli mantel mahal seperti itu, memang tipe mantel yang dibeli banyak orang, tapi aku tahu itu pasti pakaian yang mahal”.
Sementara polisi yang satunya sambil mencatat apa yang dikatakan Lacey, Lacey sendiri lupa bercerita bahwa ia tidak melihat seorang wanita pagi itu, tapi hanya sebuah mobil mewah yang melewatinya. Ia tidak sadar kalau terlalu jauh berbohong demi untuk mengisi perutnya.
”Anda ingat seperti apa mantel tersebut?”
Lacey berusaha mengingat-ingat mantel yang dibelinya saat ia masih hidup berkecukupan dulu.
”Mrs. Hilmer, apa yang baru saja anda katakan, amat berarti bagi pihak kepolisian, kami berharap anda memberitahu kami yang sebenarnya anda lihat hari itu”.
”Bukankah baru kukatakan, aku tidak begitu jelas memperhatikan, ia memakai mantel tebal dan kukira sangat mahal, terbuat dari kulit, kurasa!dan berwarna hitam yang indah. Tapi untuk apa ia berjalan-jalan di sekitar tempat pembuangan sampah kota, bukankah aneh memakai mantel mahal berjalan-jalan di tempat seperti itu, anda akan berpikir sama denganku,kan?”
”Tentu saja untuk membuang sampah Ma’am. Dan mantel itu, semua orang bukankah memilikinya? Bahkan semua penghuni White Mansion punya mantel seperti yang anda sebutkan itu”.
Kedua polisi itu saling berpandangan lagi, sementara yang satunya mencatat keterangan Lacey, yang satunya berusaha kembali mengorek informasi dari wanita tua itu.
”Mrs. Hilmer, apa anda yakin orang itu sedang berjalan-jalan? Apa anda tidak melihat ia membawa sesuatu atau mengendarai sesuatu, misalnya” tanya polisi yang bertubuh kekar sambil menyipitkan matanya.
Mengendarai sesuatu,bayangan mengenai mobil sedan mewah kini melintas dalam pikiran Lacey, bagaimanapun juga ia pernah hidup berkecukupan, ia tahu yang mana sedan mewah atau mirip sedan mewah, memorinya kini sedang bekerja mundur, berusaha mengingat kembali apa yang ia lihat hari itu.
”Kurasa aku memang melihat sebuah mobil.”aku Lacey pelan.
”Mobil?”tanya polisi itu.”Anda tahu itu jenis mobil apa?”
”Mobil sedan, warnanya hitam. Kurasa itu hanya mobil sepasang kekasih yang mencari tempat sepi untuk..,anda tahu maksudku kan,?Di belakang tempat pembuangan sampah ada bukit yang indah, jadi kurasa mereka baru saja pergi ke sana”.
”Mereka? Apa anda melihat ada lebih dari satu orang?”
”Apa aku baru saja bilang lebih dari saru orang? Entahlah aku juga tidak begitu yakin, kaca mobilnya tertutup, dan aku juga tidak begitu memperhatikan”
”Dengar, Ma’am! Kami minta anda tidak memberi keterangan palsu, karena kami bisa membawa anda sekarang juga”
Mendengar gertakan itu, hati Lacey agak sedikit menciut, ia memutuskan untuk segera mengusir kedua polisi itu.”Kalian yang dengarkan aku, aku sudah memberitahukan semua yang kulihat dan apa yang kusaksikan, sekarang silahkan pergi karena aku mau istitrahat, dan terima kasih untuk makan malamnya”kata Lacey sambil menutup pintu rumahnya di hadapan kedua polisi itu.
Saat tiba di dalam mobil polisi yang lebih kurus bertanya pada polisi yang satunya,”apa menurutmu dia berbohong?”
”Kurasa,ada beberapa yang dikatakannya sungguh-sungguh. Aku bisa melihat dari ekspresi wajahnya tentang mobil sedan itu”
”Mobil sedan?Salem Falls kota kecil, hanya puluhan orang yang punya mobil mewah dikota ini.”
”Lebih baik kita segera kembali ke markas, Jack pasti akan menyukai ini”.
Sementara itu di markas kepolisian Salem Falls, ”Lihat apa yang kubawa, mereka baru saja dari rumah pemulung itu. Menurutnya ada seseorang memakai mantel mahal di pagi buta berkeliaran di tempat pembuangan sampah pagi itu.” kata Nick.
”Apakah itu aneh? Jalan terdekat menuju bukit adalah melewati tempat pembuangan sampah itu, bisa saja orang itu sedang jogging di pagi buta.
”Mungkin benar, tapi apa mungkin jogging dengan menggunakan mantel tebal dan mahal menurut pemulung itu.”
”Nick, kebiasaan itu banyak yang aneh, aku pernah melihat yang lebih ekstrim. Memakai kaos kaki dengan sandal misalnya.”
”Benarkah, aku pernah lihat di tv, bukankah itu salah satu kejahatan fashion?”tanya Nick berusaha menahan tawa.
”Jangan bilang kau suka nonton Fashion Police!”kata Jack meledek.
”Aku pernah melihatnya, tapi aku bukan penggemar acara itu!”jawab Nick mengakui.
”Baiklah kita kesampingkan dulu mantel itu, bagai mana dengan mobil sedan hitam mewah yang dilihat pemulung itu?”tanya Jack
”Menurut pemulung tersebut, itu bukanlah hal yang aneh. Banyak pasangan-pasangan yang mencari tempat sepi di balik bukit untuk menggoyang mobil,menurutnya.”
”Bisa dihitung orang-orang yang mempunyai sedan mewah berwarna hitam di kota sekecil ini”.
”Aku mengerti maksudmu, aku akan membawa hasilnya besok siang”.Jawab Nick sambil mencatat pada notesnya.
”Aku juga ingin kau mencari tahu tentang Ellie Smith, tanyai teman-teman terdekatnya, ibunya bahkan dosennya.”
Nick mengangguk, kemudian meninggalkan Jack kembali sendirian di kantornya.
Jenna Nixon sedang makan malam bersama suaminya di rumah mereka yang terletak di pinggiran kota Salem Falls, awalnya mereka ingin makan di halam belakang rumah, sambil menikmati suara alam, tapi udara yang semakin dingin membuat mereka kembali lagi duduk di ruang keluarga dan makan malam di sana. Walaupun mereka sedang merencanakan perceraian mereka, namun itu tidak membuat mereka tidak menikmati apa yang mereka sedang makan. Jenna dibantu oleh pelayannya memasak masakan kesukaan Richard, kalkun panggang, spagety dan salad. Jenna bisa melihat suaminya amat menikmatinya, dalam otaknya Jenna bertanya-tanya, bagaimana mungkin Richard masih bisa makan begitu lahab di hadapan istri yang akan segera diceraikannya. Sesekali tatapan mereka bertemu dan keduanya melemparkan senyum palsu, mereka tahu benar akan hal itu. Kadang Richard berbasa-basi mengenai masakan yang dimasak istrinya, dan Jenna mennaggapinya dengan baik. Sambil menyesap anggur, Jenna mengamati Richard yang ada di depannya, Menyadari sedang diamati akhirnya Richard bersuara.
”Kau sudah kenyang? Padahal ini sangat enak”.
”Kalau kau mau kau boleh menghabiskan punyaku, aku sudah kenyang”jawab Jenna.
Richard menggeleng, kemudian mengelap mulutnya yang masih menyisakan setitik saus spageti.
”Apa kau menyukainya?”tanya Jenna.
Richard mengangguk. ”Kau lihat,kan bagaimana aku makan tadi, harus kuakui ini benar-benar nikmat”.
Sambil menuang anggur ke gelas suaminya Jennna berkata. ”Sayang sekali, kau tidak bisa lagi menikmati makanan seperti ini, kau tahu kan kita akan segera berpisah, tapi kalau kau mau kau boleh meneleponku untuk datang dan masak untukmu”
”Tidak, kau tidak perlu repot-repot! Masih ada pelayan yang siap memasaknya untukku, aku akan baik-baik saja”. Richard diam sebentar kemudian bertanya, ”Apa kau yakin dengan keputusanmu?”
Jenna mengangkat gelas anggurnya hingga hampir menutupi wajahnya dan menatap Richard dari balik gelas, ia berusaha menebak-nebak apakah suaminya itu merasa sedih bahwa mereka akan segera berpisah, atau justru merasa sebaliknya, ia tidak menemukan keduanya. ”Kau yang membuatnya jadi seperti ini, kau yang memulainya dan kau pasti tahu akhirnya akan seperti apa, dan kurasa kita harus siap!”
”Kuakui aku memang salah, dan aku tidak akan minta maaf, karena aku tahu kau tidak akan memberikannya, tapi kuharap kita masih bisa saling berhubungan setelah ini, kau tahu kan, kita bisa berteman”.
”Sudah berapa lama kau melakukan ini?”tanya Jenna.
Richard tidak menjawab dan hanya melemparkan pandangan tidak mengerti apa yang ditanyakan istrinya.
”Kau dan gadis itu?”
”Baru beberapa bulan”. Sudah jelas Jenna tidak percaya dengan jawaban suaminya, tapi ia tidak mau bertanya lebih jauh tentang itu, tapi ia yakin ini sudah lama sekali jauh sebelum ia mengenal Richard, lalu apa yang terjadi selama perkawinan kami?tanya Jenna dalam hati.
”Kau terlihat bahagia dengan ini semua”.
”Apa itu pertanyaan?”tanya Richard
”Kau punya jawabannya?”. Jenna balik bertanya.
”Aku akan bahagia jika kau juga bahagia, walaupun kita akan bercerai. Hanya itu jawabanku, kurasa”.
”Apa kau merasa aku bahagia?” tanya Jenna kemudian.
”Jenna, kau yang meminta ini semua. Kita telah sepakat ini adalah keputusanmu”
”Dan kau langsung menerimanya, kau tidak memikirkan ini semua. Kukira kau akan memperjuangkan aku...memperjuangkan kita”
”Kau salah! Tidak ada yang harus yang harus diperjuangkan!”jawab Richard sambil berdiri. Beberapa menit kemudian Jenna mendengar deru mesin mobil dinyalakan dan melaju pergi. Kemudian ia mengangkat gelas anggurnya seolah ingin bersulang. ”Terima kasih sudah mau makan malam denganku” katanya pelan
Lillian Clausen mengantarkan suaminya ke kamar tidur, dan menyuruh suaminya untuk beristirahat. Sore tadi mereka baru saja memeriksa kesehatan Robert, Lilian merasa penyakit Alzheimer suaminya sudah memburuk. Tangannya mulai bengkak, siang tadi ia minta makan garlic bread dengan salad padahal 15 menit yang lalu mereka baru makan siang, tapi Robert berkeras bahwa perutnya belum terisi dan mulutnya belum mengunyah apapun. Lilian semakin khawatir akan suaminya, ia berencana akan segera menjual tanah pertanian mereka dan pindah ke White Mansion agar ada yang merawat Robert apalagi sekarang ia pun sudah mulai mudah letih. Para pegawai pun akan mendapat yang cukup besar untuk mereka bertahan dan mencari pekerjaan, tapi Lillian berharap seseorang yang membeli tanah mereka agar segera meneruskan usahanya dan para pegawai pun bisa tetap bekerja.
Lillian mengeluarkan beberapa butir obat dan memberikannya pada suaminya. ”Minumlah ini, kau akan segera bisa beristirahat. Dokter menyuruhmu banyak melakukan hal itu, biar Joe yang mengurus pertanian untuk sementara kau sakit, aku juga akan segera mengurus kepindahan kita ke White Mansion” ujar Lillian.
”Bukankah aku baik-baik saja, kau yang terlihat pucat, sayang. Apa kau sakit?”
Lillian menggeleng pelan sambil tersenyum. ”Aku baik –baik saja, minumlah ini! Kau pasti akan merasa jauh lebih baik.”
Sambil mendesah kesal Robert melakukan apa yang dikatakan istrinya. Sambil memandangi suaminya Lillian berpikir, apakah mereka akan harus benar-benar pindah dari sini?, tanah pertanian ini sudah menjadi rumah mereka selama puluhan tahun, sulit rasanya meninggalkan apapun yang telah menjadi bagian dari hidup mereka.
Setelah Robert terlelap, Lillian meninggalkan kamar mereka dan memakai jaket suaminya, kemudian ke dapur dan membuat teh panas. Lillian kemudian membawa teh beserta nampannya ke ruang tamu, ia biasa bersantai di sana sekarang menjelang malam, kadang Robert menemaniya juga. Lillian memandang keluar sambil mentesap teh yang masih mengepul, dari jendelanya terlihat asisten keluarga mereka Joe yang tengah memarkirkan sedan mewah berwarna hitam ke garasi samping rumah.
Laurie menutup laptopnya dan menguap pelan, ia baru saja menyelesaikan makalahnya yang akan segera diserahkan ke dosen Sejarah Kebuadayaan Perancisnya. Dibelakangnya Jessica tengah berbaring telungkup ditempat tidur mendengarkan musik melalui I Pod sambil membaca People edisi terbaru, foto Paris Hilton tengah memakai bikini menghiasi cover majalah tersebut, di sana juga tertulis: Paris dan Lindsay menghadiri pesta liar Britney semalam.
”Apa saja yang mereka lakukan?” tanya Laurie sambil melempar Jesica dengan bundelan kertas.
”What?” kata Jessica melepas I Pod milknya. Laurie mengangguk ke arah majalah yang dipegangnya. ”Biasalah, pesta liar..sex, drugs, wine, dan sejenisnya. Aku benar-benar ingin bergabung dengan mereka” kata Jessica jujur.
Laurie mengangguk setuju.”Pasti menyenangkan bisa ada di sana, tempat itu pasti sangat meriah”
”Pastinya, oh iya, kau masih ingat orang tua yang marah-marah di upacara kematian Ellie Smith, tadi aku bertemu dengannya di rumah sakit, sepupuku sedang dirawat di sana.”Jessica menjelaskan. ”Dia adalah salah satu orang terkaya di Salem Falls, pemasok seluruh sayur dan buah kebutuhan dikota ini, namanya Robert Clausen ia datang bersama istrinya Lillian”.
”Bagaimana kau mengenal mereka?” tanya Laurie.
”Tentu saja semua orang mengenal mereka, mereka adalah pasangan yang baik, tapi agak kurang bergaul apalagi setelah kematian puteri satu-satu mereka. Kasihan, terutama Robert. Sepertinya akhir-akhir ini ia agak kurang sehat. Ada gosip aneh yang beredar tentang mereka” Jessica berhenti bicara dan menunggu reaksi temannya. Dilihatnya alis Laurie terangkat ke atas dan ia mengubah posisi duduknya. ”Aku tahu kau akan menyukai ini” kata Jessica sambil nyengir.
”Sudah katakan saja ada apa!” kata Laurie tidak sabar.
”Sekitar enam atau tujuh tahun lalu di perkebunannya yang luas itu ditemukan darah manusia yang berceceran, kalau tidak salah saat itu Andrea juga menghilang. Tapi tidak ada yang tahu itu darah siapa karena Andrea juga tidak ditemukan dan kita tahu kan kerangkanya baru ditemukan beberapa hari yang lalu”
”Lalu apa yang aneh dengan mereka? Ini cuma kebetulan ada darah di kebun mereka”.
”Aku belum selesai! Sejak itu beredar desas desus kalau kedua orang itu adalah penyihir, maksudku mereka menggunakan korban, mantra-mantra sebaggai persembahan. Saat itu adalah musim dingin yang sulit, aku juga tidak mau percaya tapi beberapa minggu kemudian mereka adalah orang yang paling sukses di musim yang parah seperti itu, hal itu tentu saja menimbulkan desas-desus aneh, walaupun mereka tahu sedang dipergunjingkan, tapi mereka tetap bersikap seperti biasa, mengunjungi acara- acara amal dan berpartisipasi dalam pembangunan kota”.
”Kalau begitu, mereka berjasa bagi kota ini kan, mengapa masyarakat masih membicarakan hal-hal yang tidak ada buktinya?”
”Memang tidak ada bukti apapun, akhirnya gosip itu pun mereda dan munculah kejadian sekarang, maksudku Ellie dan tulang-tulang yang kemungkinan milik Andrea ditemukan, masyarakat mulai mengaitkan ini semua ditambah kejadian aneh di upacara beberapa hari lalu, mereka makin merasa tersudut”
”Apa menurutmu mereka ada hubungannya dengan ini semua?”tanya Laurie.
”Entahlah, tapi aku jelas tidak percaya dengan yang namanya penyihir dan sejenisnya”jawab Jessica kemudian kembali memasang I Podnya dan melanjutkan membaca.
Laurie kembali menghadap laptopnya dan memikirkan apa yang baru dikatakan sahabatnya itu. Apa mungkin semua ini saling berhubungan, kejadian tujuh tahun yang lalu dengan peristiwa beberapa hari yang lalu, aku akan ke rumah Lisa dan Joanna besok, kata Laurie dalam hati.
Sebelum istirahat Joanna kembali masuk ke kamar puterinya untuk mencari lebih banyak informasi, ia merasa Ellie menyembunyikan banyak hal yang tidak diketahuinya, Joanna mengira sebagai seorang ibu ia telah membesarkan Ellie tentang kejujuran, tapi Joaana menduga lingkungan yang mengubah seseorang berubah apalagi ditambah Ellie telah ditinggal ayahnya.
Joanna membuka laci meja yang paling bawah yang terletak di samping kamar tidur putrinya, kemudian meraih buku harian Ellie dan membukanya. Berbeda dengan kemarin yang telah dibacanya, kali ini lebih banyak cerita kalau ia tengah naksir seorang pria di kampusnya, sesekali Joanna tersenyum membacanya, namun rautnya kembali berubah saat melihat nama Nixon tertulis di sana. Joanna yakin Ellie terlibat sesuatu dengan pria itu . Lembar berikutnya lebih membuat Joaana penasaran, Ellie bercerita kalau ia telah diawasi oleh seseorang, ia juga sering mendapat telepon iseng dari seorang wanita yang tidak ia kenal. Kening Joanna berkerut. Wanita? dalam hati ia bertanya-tanya, ada apa lagi ini?. Joanna kembali melanjutkan membaca. Setiap hari setidaknya ia mendapat telepon aneh yang mengatakan kalau ia akan dibunuh, teror itu berakhir dua hari sebelum kematian Ellie, di akhir halaman Joanna juga menemukan kalau Ellie baru saja putus dengan pacarnya karena pria itu lebih memilih dengan pelacur.
Joanna menarik nafas panjang dan meletakan buku itu kembali ke tempatnya kemudian sambil berbaring di tempat tidur Ellie, ia berusaha mencari tahu siapa wanita yang dimaksud Ellie, ia kemudian menduga wanita itu adalah pelacur yang dimaksud Ellie, tapi apa mungkin hanya karena berandal itu mereka saling berebut? tanya Joanna dalam hati. Joanna memutuskan akan mencari tahu besok saat matanya mulai terlelap sambil memeluk bantal puterinya.
21 November 2008
Laurie memasukkan semua buku-bukunya kedalam tas ranselnya, ia juga membawa tugas yang baru saja diselesaikannya semalam. Hari ini adalah hari terakhir pengumpulan makalah tersebut, bagi yang telat dosennya tidak akan meluluskan mata kuliah itu dan baru akan diterima semester depan. Hari ini tidak begitu banyak mata kuliah yang akan ia ikuti, setelah selesai ia memutuskan ke rumah Joanna lalu kembali ke 24’rest untuk bekerja.
”Kau mau datang nanti malam?”tanya Jessica yang tengah becermin dan mengatur rambutnya.
”Nanti malam? Aku bahkan tidak tahu ada apa?”
”Apa aku belum memberitahumu? cowok baru itu, Daniel Spencer. Ia mengadakan pesta kelulusan setelah mendapat SIM, dasar orang kaya, selalu pesta setiap ada hal aneh dan menyenangkan. Sepertinya pesta tersebut akan diadakan dibelakang rumahnya yang luas. Semua mahasiswa X University diundang, entah akan seperti apa nanti, kurasa Disney Land akan pindah ke sana”
”Aku tahu dia, anak baru itu!”. kata Laurie sambil tersenyum.
Jessica menatap sahabatnya dengan pandangan menyelidik. ”What! cepat sekali gerakanmu, aku bahkan belum pernah melihatnya”.
”Bisa dibilang itu kecelakaan, kami tidak sengaja bertabrakan di depan kampus, dia bertanya di mana perpustakaan. That’s it!”
”Bertemu dengan cowok tampan jelas bukan kecelakaan. Kurasa Daniel bagaikan oase di tengah cowok-cowok kampus dengan tampang gersang dan menyebalkan, di pikiran mereka cuma ada wanita dan seks. anyway, kau akan datang?” tanya Jessica lagi.
”Entahlah, aku harus kerja dan aku akan ke rumah Joanna lagi. Aku ingin mencari beberapa hal lagi.”
Jessica memandang Laurie sambil menggeleng. ”Kau terobsesi seperti layaknya kau akan memecahkan kasus ini, ini bukan tugasmu,girl. Bersenang-senanglah,berpesta layaknya gadis seusia kita. Oke, jika kau datang untuk menghibur Joanna, tapi aku tahu maksudmu bukan seperti itu, kau akan main detektif-detektifan dan itu jelas mengundang bahaya”.
”Jess, aku hanya berusaha menghilangkan rasa penasaranku, sepertinya ada yang mengganjal jika aku hanya diam diri, aku juga tidak tahu kenapa aku ingin tahu sampai semua ini selesai”
”Laurie, ada pembunuh gila yang mengincar gadis-gadis muda di luar sana, kalau kau mencari tahu tentang ini dan orang itu tahu, sama saja kau menawarkan diri untuk menjadi korban berikutnya”.
”Aku akan hati-hati, tenang saja!”
Jessica hanya memandang kasihan pada sahabatnya.”Jangan bertindak terlalu jauh! Kata Jessica.
Laurie menangguk.
”Jangan melakukan hal-hal aneh, jangan sok tahu, jangan lewat jalan-jalan sepi dan gelap, jangan bertindak sok detektif, jangan mendahului polisi.” kata Jessica .
Laurie memutar bola matanya kemudian berjalan keluar menuju kampusnya, sementara Jessica mencoba baju-baju yang akan dikenakannya malam nanti.
Jack tiba di kantornya pagi itu dengan masih agak mengantuk, semalam ia pulang ke rumah hampir tengah malam, dan sekarang harus berangkat pagi-pagi sekali untuk melanjutkan menyelidiki kasus yang ada. Insting polisinya bekerja, ia merasa hari ini akan ada titik terang untuk kasusnya. Saat masih di rumah Dorothy cuma bilang ke suaminya agar tidak terlalu memikirkan kasus itu. Jack sudah cukup tua dan sebentar lagi akan pensiun.
”Berikan saja pada yang lebih muda”.kata istrinya pagi tadi. ”Kau sudah bekerja sangat keras, kau berhak beristirahat. Kemarin aku mengunjungi White Mansion untuk bertanya-tanya dan mencari tipe yang murah dan nyaman untuk kita, luar biasa Jack, tempat itu begitu indah, tipe yang paling murah pun sangat nyaman untuk ditinggali”.
”Kau tahu aku belum bisa melakukannya sekarang, aku akan menyelesaikan semua ini baru aku bisa tidur nyenyak, percuma saja kalau kita pindah ke sana, tapi aku tidak bisa tidur”.
Dorothy memeluk suaminya dari belakang dan mengusap punggung pria itu. ”Kau pasti bisa menyelesaikannya, aku tahu itu”.
Jack berbalik dan mencium istrinya dengan lembut, ”terima kasih, sayang. Aku janji begitu semua ini selesai, kita akan langsung mengemasi barang-barang kita”
Begitu sampai di ruangannya, Jack sudah bisa mendengar suara-suara orang mengetik komputer, dering telepon di sana sini serta aroma kopi panas yang mulai membuatnya bersemangat. Begitu ia duduk di kursinya ia mendengar pintunya diketuk, dan anak buahnya Nick masuk sambil membawa dua gelas kopi yang masih mengepul. Nick baru ingin berbicara tapi Jack segera menghentikannya. ”Biarkan aku menikmati sedikit, baru kau boleh mengoceh”.
Setelah Jack meletakan gelasnya, Nick segera mengatakan apa yang ia ingin katakan. ”Well, kita akan segera mendapat hasil DNA itu sore ini, jika tulang-tulang itu adalah milik Andrea, aku yakin pembunuhnya adalah orang yang sama dengan pembunuh Ellie Smith dan itu akan memudahkan kita untuk melakukan penyelidikan”
”Apa menurutmu dia adalah orang yang sama?”tanya Jack
”Aku mempunyai firasat seperti itu.”
Firasat, kata Jack dalam hati. Seorang polisi harus mengungkapkan kejahatan dengan fakta berdasarkan hasil penyelidikan dan investigasi, tapi firasat dan ketajaman insting seorang polisi jelas sangat membantu proses penyelidikan, Jack teringat saat ia masih seangkatan Nick dan bertugas di pedalaman Rocky Mountain, ia dan polisi lain mengandalkan firasat atasannya guna mengungkap kejahatan seorang pembunuh phedofilia yang menculik belasan anak, melakukan kekerasan seksual, lalu membunuh mereka dan menguburnya di gudang bawah tanah rumahnya. Tapi Jack tidak mempunyai firasat tajam seperti atasannya dulu, apa ia harus mengandalkan Nick? yang benar saja, kata Jack dalam hati.
Setelah makan siang berupa sandwich tuna dan secangkir kopi Jack menerima hasil tes DNA antara Lisa Cornwell dan kerangka yang ditemukannya beberapa hari yang lalu, hasilnya seperti yang mereka duga sebelumnya bahwa ada kecocokan antara kedua DNA tersebut, Jack segera menghubungi Lisa bahwa kerangka tersebut adalah milik putrinya dan ia bisa mengambilnya besok untuk dimakamkan atau dikremasi. Lisa hanya bisa menangis tertahan saat dihubungi namun sekaligus lega bahwa putrinya telah ditemukan walaupun hanya dalam keaadaan seperi itu. Ia segera mengucapkan terima kasih pada polisi yang Jack yang telah mengkonfirmasi hal tersebut dan akan segera mengambil kerangka putrinya besok.
”Ibunya akan mengambilnya besok!” kata Jack pelan pada Nick.
Nick segera menyerahkan ampop coklat yang dari tadi dipegangnya kepada Jack. ”Ini daftar warga Salem Falls yang mempunyai mobil BMW hitam, tidak sulit mendapatkannya hanya puluhan orang mengingat ini adalah kota kecil”.
Jack menelusuri nama-nama tersebut satu persatu, sesekali alisnya terangkat atau menyipitkan mata, ada beberapa nama yang menarik perhatiannya terutama orang-orang yang mengenal keluarga Smith dengan baik. Richard dan Jenna Nixon, sang suami mengajar di kampus tempat Ellie kuliah,istrinya menurut Dorothy mempunyai butik yang tidak terlalu mewah namun menarik, lebih dari separuh wanita muda Salem Falls berbelanja baju di sana, bahkan ada yang pernah melihat Mariah Carey berkunjung dan membeli beberapa bra, kemungkinan ia mengenal Ellie, menurut istrinya yang mendengar gossip di toko kelontong pasangan tersebut sedang kurang harmonis, dan sesekali ada pertengkaran. Kemudian pasangan tua yang cukup dihormati, suami istri Clausen, mereka jelas yang menangani pasokan pasar sayur dan buah ke seluruh kota, Robert bertindak aneh saat upacara kematian Ellie Smith, akhir-akhir ini berita mengenai penyihir jelas amat gencar dan pasangan tersebut adalah tersangka utama oleh para warga yang mempercayainya. Teddy William Sr., bukankah putranya mantan pacar Ellie? kata Jack dalam hati, ada saksi yang melihat Ted mengendarai mobil tersebut saat ke pesta Sarah Lee. Kemudian ada Gina Currington, Ray Nichols dan lain-lain. Jack segera menggaris bawahi orang-orang yang kemugkinan mengenal Ellie, ia akan memulai penyelidikannya dari sana, memang agak melelahkan, tapi tidak ada cara lain, sebagai awalnya ia akan berbelanja sayuran ke perkebunan Clausen.
Lisa segera menghubungi beberapa kerabatnya dan mengatakan bahwa Andrea telah ditemukan, walaupun sambil menangis ia berusaha tegar dan sabar, ia juga mengatakan tulang Lisa akan dikremasi saja, ia sudah tujuh tahun dikubur, untuk apa lagi membuatnya tersiksa dalam tanah, kata Lisa menelepon adik laki-lakinya. Adik laki-laki Lisa tinggal di Long Island dan mengatakan akan datang besok pagi-pagi sekali untuk membantu proses kremasi Andrea.
Akhirnya sekarang Lisa bisa merasa lega dan tidur nyenyak, ia tidak akan lagi khawatir bagaimana nasib puterinya, walaupun masih ada pertanyaan besar di kepalanya, siapa yang melakukan semua ini dan mengapa?. Saat Lisa berusaha mencari jawabannya, ia mendengar pintu rumahnya diketuk seseorang. Saat membuka pintu ia mendapati wajah Laurie yang tersenyum padanya kemudian ia sudah merasakan gadis itu memeluknya.
Mereka duduk di dapur Lisa, Kemudian Laurie mencium aroma lezat yang sudah lama ia tidak rasakan seperti di rumah dulu saat ibunya masih hidup. Lisa mengeluarkan butter cake dari oven dan aroma harum langsung memenuhi ruangan. ”Aku sudah menduga kau akan kemari, aku sudah menyiapkan ini, kebetulan sekali baru matang”.
”Entah sudah berapa lama aku tidak merasakan makanan ini, aku sudah merasakannya yang ada di dekat kampus tapi rasanya benar-benar beda dengan yang dibuat ibuku” kata Laurie terus terang.
”Kalau begitu kau harus mencoba buatanku, jelas tidak sama dengan buatan ibumu, tapi kurasa jauh lebih baik dari yang dijual di toko dekat kampusmu” saran Lisa
Tanpa ragu Laurie mengambil potongan besar cake tersebut dan memasukkannya ke dalam mulutnya, kemudian mengangguk karena rasa nikmat yang ada dilidahnya, ia ingin mengatakan sesuatu tapi sulit bicara karena mulutnya penuh. ”Lebih baik kau telan dulu, aku tahu apa yang ingin kau katakan” ujar Lisa sambil tersenyum dan menyodorkan secangkir teh hangat. Laurie mengambil cangkir itu kemudian meminumnya hingga setengah.
”Harus kuakui, memang beda dengan ibuku, tapi jauh lebih baik dari yang ada di dekat kampus, ini benar-benar enak. Kenapa kau tidak membuka toko kue saja? Dari pada hanya bekerja di toko swalayan kecil, tentu saja kau akan mendapat penghasilan lebih” kata Laurie.
Lisa menggeleng. ”Aku pernah mencobanya, tapi gagal, aku akan mencobanya lagi tapi tidak sekarang.
Laurie menyesap kopinya kemudian meletakan kembali gelasnya ke cangkir. ”Aku sudah melihat beritanya, ini pasti berat buatmu, tapi aku tahu kau sedikit lega, Andrea sudah ditemukan”
”Begitulah, akhirnya perasaan cemas ini berakhir, akhirnya aku bisa tidur nyenyak lagi, tapi aku masih berharap semua ini bisa terungkap”
Laurie menggenggam tangan Lisa dengan lembut ”Ini akan berakhir” katanya pelan.
Laurie tidak tinggal lama ia akan mampir lagi ke rumah Joanna Smith, kemudian akan bekerja hingga tengah malam, kalau masih punya tenaga ia akan datang ke pesta itu, dan mendadak ia teringat kepada siapa yang mengadakan pesta itu, pria yang tidak sengaja menabraknya kemarin, Daniel Spencer. Rambutnya yang gelap, matanya yang tajam. Oh! Shit! Apa yang sedang kupukirkan, kata Laurie pelan, wajahnya memerah.
Joanna tengah menyaksikan berita malam saat Laurie datang, berita mengenai ditemukannya kerangka di tempat pembuanganmayat masih menjadi headline di semua satsiun TV, Joanna mengenal Lisa Cornwell, ia sering berbelanja di swalayan tempat wanita itu bekerja, Joanna merasa mereka adalah wanita yang sama, para ibu di usia 30-an yang sedang memendam kesedihan yang mendalam.
”Masuklah, aku sedang menjerang kopi di dapur, kita akan berbincang di sana saja” kata Joanna pada Laurie begitu gadis itu masuk.
Sementara Laurie duduk di dapur, Joanna kembali ke dalam dan membawa sesuatu yang sepertinya buku harian. ”Mungkin kau mau melihat ini, aku belum menyerahkannya pada polisi, kurasa aku kan mencari tahu sendiri mengenai kebenaran yang ada di sana”
”Apa maskud anda?apakah ini milik Ellie?”tanya Laurie tidak mengerti.
Joanna mengangguk. ”Bacalah, kau akan mengerti!”
Laurie membaca halaman-demi halaman buku harian milik Ellie, alisnya berkali-kali mengernyit, dan mulutnya membentuk huruf O, ia masih tidak menyangka, ternyata Richard ada hubungan dengan Ellie.
”Maksud anda, dosen saya ada hubungannya dengan kematian Ellie?”tanya Laurie setelah selesai membaca, ia menyerahkan kembali buku itu pada Joanna.
”Aku mengira seperti itu, kurasa Richard sangat terobsesi pada puteriku, aku bisa melihatnya sejak suamiku membawanya ke rumah kami, di tambah pengakuan Eliie melalui buku ini”
”Terserah anda mau percaya apa tidak, menurut temanku aku sedang main detektif-detektifan, tapi aku sedang mnyelidiki semua kejadian ini, dan menurutku kematian Ellie ada hubungannya dengan ditemukannya kerangka Andrea Cornwell”
”Aku sudah melihat beritanya, Lisa yang malang. Mungkin suatu hari kami bisa minum teh bersama sambil berbagi perasaan, lalu apa yang mendasarimu punya pikiran seperti itu”
”Entahlah, tapi aku sangat yakin pelakunya adah orang yang sama”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar